Masyarakat Harus Terus Kawal Perwali dan Pergub Pengurangan Sampah Plastik

Perwali maupun Pergub tentang pengurangan sampah plastik merupakan satu step dari solusi pengurangan sampah yang ada di Bali

Masyarakat Harus Terus Kawal Perwali dan Pergub Pengurangan Sampah Plastik
Tribun Bali/Rizal Fanany
Sejumlah pemulung memungut sampah plastik di Pantai Kedonganan, Badung, Sabtu (26/1). Sampah musiman ini memberi keuntungan bagi pemulung yang bisa mengumpulkan sampah plastik 70 kilo per hari 

Laporan Wartawan Tribun Bali, I Putu Supartika

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Menurut Gede Robi Supriyanto yang juga vokalis Navicula, adanya Perwali maupun Pergub tentang pengurangan sampah plastik merupakan satu step dari solusi pengurangan sampah yang ada di Bali.

Menurutnya, Perwali dan Pergub ini masih harus dikawal supaya jadi Perda sehingga memiliki sanksi bagi pelanggarnya.

"Buang sampah sembarangan yang sudah jadi Perda saja masih banyak yang membuang sampah sembarangan, padahal itu tindakan kejahatan dan ada sanksinya, jadi penegakan hukumnya belum kuat," kata Robi dalam konferensi pers peluncuran film Pulau Plastik di Denpasar, Rabu (30/1/2019) sore.

Ia juga menyoroti sistem distribusi sampah yang belum maksimal.

Semisal masyarakat sudah melakukan pemisahan antara sampah orgnik dan anorganik, namun diangkut dijadikan satu.

Baca: Film Pulau Plastik Soroti Permasalahan Sampah Plastik di Bali

Baca: Ubah Sampah Jadi Komoditas, dari Kompos hingga Barang Hasil Daur Ulang Bernilai Ekonomis

Baca: Kecewa Tak Bisa Bertemu Lagi dengan Cucunya, Nenek Amandine Tantang Tyas Mirasih untuk Bersumpah

"Di level pemerintah PR itu masih jauh ke depan. Melarang tas plastik ini sudah pernah dilakukan tahun 2016 lalu. Ada peraturan plastik berbayar, tapi 6 bulan dicabut karena tidak jadi prioritas utama. Perwali atau Pergub ini jika tidak jadi isu prioritas di masyarakat dan ada masyarakat yang menolak, kemungkinan bisa ditarik lagi. Harus dikawal ini, untuk kebutuhan politis hukum yang baik bisa jadi tidak logis," paparnya.

Sehingga ia mengajak semua orang bergerak sesuai dengan kemampuannya, semisal dengan membuat film untuk seniman sepertinya, PHDI mengeluarkan bhisama, adat membuat awig-awig, media meliput secara terus-menerus.

Kata Robi, kebaikan ada dalam diri orang, kalau percaya bahwa sampah plastik bertentangan dengan Tri Hita Karana dan peduli dengan Tri Hita Karana, semua harus berkontribusi sesuai apa yang bisa dikerjakan.

"Hanya melarang tas plastik baru langkah pertama. Dan kita masih ngomong TPA Suwung, itu masih jauh, belum lagi sampah di laut 40 persen," katanya.

Halaman
12
Penulis: Putu Supartika
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved