Peluncuran Serial Film 'Pulau Plastik', Andre Ajak Tolak Tas Kresek

Peluncuran perdana serial film "Pulau Plastik" yang menyoroti tentang isu sampah plastik di pulau Bali di Potato Head Beach Club, Kuta

Peluncuran Serial Film 'Pulau Plastik', Andre Ajak Tolak Tas Kresek
Tribun Bali/Noviana Windri
Suasana peluncuran perdana serial film "Pulau Plastik" yang menyoroti tentang sampah plastik di pulau Bali di Potato Head Beach Club, Kuta, Bali, Jumat (1/2/2019) sore. 

TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA - Peluncuran perdana serial film "Pulau Plastik" yang menyoroti tentang isu sampah plastik di pulau Bali di Potato Head Beach Club, Kuta, Bali, Jumat lalu (1/2/2019).

Peluncuran ini dihadiri oleh Walikota Denpasar, IB Rai Dhatmawijaya Mantra didampingi Kerua TP. PKK Kota Denpasar, Ny. Selly Dharmawijaya Mantra.

"Dalam launching pulau plastik ini menambah semangat kita untuk mengurangi sampah plastik di dunia. Sebetulnya kita minta dukungan kepada semuanya. Denpasar sudah punya peraturan untuk pengurangan plastik ini dari bulan Oktober."

"Terpaksa kami menggunakan peraturan karena ternyata tanpa peraturan susah juga memberitahu orang untuk mengurangi plastik,"

"1 tahun kami berjuang untuk mensosialisasikan dan per 1 Januari ini syukur sekali banyak yang sudah mengikuti pengurangan plastik dan sudah banyak sekali yang mengetahui tentang permasalahan plastik dan juga masalah lingkungan. Pada intinya kita selamatkan lingkungan untuk anak dan cucu kita semoga film Pulau Plastik ini menginspirasi dan menyelamatkan pulau Bali," ucap Walikota Denpasar, IB Rai Dhatmawijaya Mantra saat memberikan sambutan pada peluncuran perdana serial film "Pulau Plastik" di Potato Head Beach Club, Kuta, Bali, Jumat lalu (1/2/2019).

Sementara, Andre Dananjaya, Senior Officer Kopernik menyebutkan film "Pulau Plastik" didedikasikan untuk semeton Bali dan tidak hanya menghibur tetapi juga memberikan pengetahuan tetang dampak sampah plastik.

"Jadi Pulau Plastik sebenernya serial yang didedikasikan untuk semeton Bali dan kita memang fokus tidak hanya mengangkat soal fakta di balik pengelolaan sampah plastik tapi kita juga pingin memberikan satu gagasan baru dengan mengelola segala bentuk aktivitas-aktivitas inisiatif komunitas yang ada di Bali. Cuma kita mau jadikan satu bentuk visual."

"Memang tidak hanya menghibur tapi juga memberikan satu pengetahuan baru tentang apa yang kita haru lakukan terhadap dampak sampah plastik," paparnya.

Ia juga menambahkan isu sampah plastik menjadi permasalahan yang cukup lama dan menjadi permasalahan industri pariwisata terutama di Bali.

"Momennya adalah sekarang karena kita tahu sendiri dunia sudah menyinggung isu sampah plastik ini sudah cukup lama."

"Bali sebagai ruang dan tempat bertemunya segala industri pariwisata, kreatif dan juga kemudian kita melihat Bali sebagai sebuah tempat yang dianggap suci oleh warganya. Itu yang ingin kita jaga kesuciannya. Dalam Industri pariwisata, plastik menjadi salah satu bagian yang meresahkan," tambahnya.

Menurutnya, hal yang paling sederhana untuk mengurangi sampah plastik adalah membawa tas dan botol minuman sendiri serta menolak tas kresek.

"Sebisa mungkin kita harus bawa sendiri perangkat-perangkat yang kemudian kita tidak perlu minta di restoran misalnya, ke toko ritel itu kita bisa bawa tas sendiri dan sekarang sudah banyak vendor-vendor yang memberikan tas-tas itu,"

"Yang kedua selalu bawa botol minuman sendiri. Saya kira nanti akan banyak inisiatif yang akan memberikan spot atau tempat refil minuman. Dan satu lagi yang paling sederhana adalah menolak tas kresek," tutupnya.

Penulis: Noviana Windri
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved