Terekam Kamera Warga, Begini Detik-detik Awan Panas Meluncur dari Puncak Gunung Merapi

Gunung Merapi di Yogyakarta kembali menunjukkan peningkatan aktivitas vulkaniknya, Senin (11/2/2019).

Terekam Kamera Warga, Begini Detik-detik Awan Panas Meluncur dari Puncak Gunung Merapi
TRIBUN JOGJA/HASAN SAKRI GHOZALI
ilustrasi Gunung Merapi 

Laporan Wartawan GridHot.ID, Linda Rahmad

TRIBUN-BALI.COM, - Gunung Merapi di Yogyakarta kembali menunjukkan peningkatan aktivitas vulkaniknya, Senin (11/2/2019). Terpantau pada pagi hari tadi telah terjadi guguran awan panas di Gunung Merapi.

Guguran awan panas Merapi ini terjadi pada pukul 08.58 WIB.

Awan panas tersebut terjadi selama 35 detik dengan jarak luncur 400 m ke arah Kali Gendol.

Peristiwa guguran awan panas ini tertangkap oleh kamera salah satu warga.

Banyak warga yang berkumpul di selatan lapangan Merapi Golf untuk merekam kejadian ini.

"Jaga-jaga lur," kata seseorang dalam video tersebut.

Terpantau banyak warga yang heboh saat mengamati awan panas Gunung Merapi.

Dalam video tersebut nampak awan panas muncul dari puncak Gunung Merapi.

 

Hingga artikel ini diterbitkan postingan ini telah ditonton sebanyak 2.375 orang.

3 Hari sebelumnya

Tiga hari sebelumnya, kubah lava gunung merapi terpantau masih stabil.

Hal ini seperti yang dikatakan oleh Badan Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta.

 
"Kubah lava saat ini dalam kondisi stabil dengan laju pertumbuhan yang masih relatif rendah," kata Kepala BPPTKG Hanik Humaida, dalam rilis tertulis Jumat (8/2/2019).

"Aktivitas vulkanik Gunung Merapi masih cukup tinggi dan ditetapkan dalam tingkat aktivitas waspada," ucap dia.

Untuk itu, dalam radius 3 km dari puncak Gunung Merapi, sengaja dikosongkan dari aktivitas penduduk dan pendakian demi keamanan dan keselamatan.

"Sehubungan dengan sudah terjadinya beberapa kali awan panas dengan jarak luncur yang semakin besar, maka masyarakat di sekitar alur Kali Gendol agar meningkatkan kewaspadaan," ucap dia.

Lebih lanjut, guguran lava dan awan panas tersebut berpotensi menimbulkan hujan abu.

Masyarakat di sekitar dihimbau untuk mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik.

"Masyarakat agar mewaspadai bahaya lahar terutama saat terjadi hujan di seputar Gunung Merapi," kata dia.

"Jika terjadi perubahan aktivitas Gunung Merapi yang signifikan, maka status aktivitas Gunung Merapi akan segera ditinjau kembali," ucap dia.

Awan panas guguran teramati terjadi pada tanggal 7 Februari 2019 ke arah Kali Gendol.

Awan panas guguran terjadi pada pukul 18.28 WIB, dengan jarak luncur 2.000 meter, amplitudo 70 mm dan durasi 215 detik.

Kegempaan Gunung Merapi dalam minggu ini tercatat 1 kali gempa awan panas (PF), 25 kali gempa hembusan (DG), 2 kali gempa vulkanik dangkal (VTB), 4 kali gempa fase banyak (MP), 377 kali gempa guguran (RF), 11 kali gempa low frekuensi (LF), dan 7 kali gempa tektonik (TT).

Intensitas kegempaan pada minggu ini lebih tinggi dari minggu sebelumnya.

Pada minggu ini, terjadi hujan di Pos Pengamatan Gunung Merapi dengan intensitas curah hujan tertinggi sebesar 50 mm/jam selama 30 menit di Pos Babadan pada tanggal 1 Februari 2019.

Tidak dilaporkan terjadi lahar maupun penambahan aliran di sungai-sungai yang berhulu di Gunung Merapi.

"Pemerintah daerah direkomendasikan untuk menyosialisasikan kondisi Gunung Merapi saat ini," kata dia.

(*)

Editor: Ady Sucipto
Sumber: Grid.ID
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved