SRB

Warisan Tabuh Bebarongan Klasik di Banjar Tatasan Kaja Miliki Kekhasan Nada dan Lagu

Banjar Tatasan Kaja, Desa Pakraman Tonja memiliki sesuhunan berwujud barong. Sesuhunan ini berstana di Pura Maospahit.

Warisan Tabuh Bebarongan Klasik di Banjar Tatasan Kaja Miliki Kekhasan Nada dan Lagu
Banjar Tatasan Kaja
Sekaa gong pemuda sedang berlatih di Banjar Tatasan Kaja, Desa Pekraman Tonja, Kelurahan Tonja, Kecamatan Denpasar Utara, Denpasar 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Banjar Tatasan Kaja, Desa Pakraman Tonja memiliki sesuhunan berwujud barong. Sesuhunan ini berstana di Pura Maospahit.

Pada hari-hari tertentu, sesuhunan barong ini akan mesolah (pentas menari). Sesolahan ini akan diiringi dengan tabuh bebarongan klasik, khas Tatasan.

Tabuh bebarongan Tatasan ini konon memiliki lagu yang khas. Kekhasan ini tampak dari susunan nada dan lagu.

Ada sekitar enam tabuh bebarongan yang dimiliki Banjar Tatasan Kaja. Tetabuhan itu antara lain Tabuh Besik, Tabuh Gilak Petegak, Tabuh Pusuh Biu, Tabuh Bregiding, Tabuh Buaya Mangap, dan Tabuh Sesandaran.

Tetabuhan ini pun diajarkan dari generasi ke generasi. Pengurus banjar biasanya akan mengajarkan tabuh ini kepada sekaa gong remaja.

Salah seorang penabuh muda dari Tatasan Kaja, Nyoman Widiana juga ikut bergabung dalam sekaa gong pemuda.

Sewaktu kecil, ia juga aktif di sekaa gong anak-anak Banjar Tatasan Kaja. Menurutnya, keenam tetabuhan barong khas Tatasan Kaja menyenangkan untuk dipelajari, sebab merupakan identitas dari wilayah tempat tinggalnya.

Baca: Gong Sakral di Pura Batukaru, Hanya Boleh Ditabuh di Utama Mandala Pura oleh Trah Keluarga Kabayan

Baca: Dua Gong Digabungkan Hasilkan Gambelan Baru, Sekaa Gong Taruna Mekar Tampilkan Tetabuhan Unik

Baca: Lawan Izin Lokasi dari Menteri Susi, Pemuda Banjar Tatasan Kaja Kembali Pasang Baliho BTR

“Biasanya yang mengajari adalah penabuh Tatasan Kaja yang sudah ahli. Kami biasa mempelajari tabuh bebarongan ini untuk persiapan ketika akan ada upacara di Pura Maospahit. Untuk mempelajari enam tabuh bebarongan tersebut paling tidak perlu waktu dua bulan, mungkin lebih agar bisa ngalusin (lebih memperhalus suara),” tuturnya.

Di antara enam tabuh tersebut, Tabuh Pusuh Biu adalah yang paling sulit menurutnya. Hal ini karena durasinya yang panjang, sekitar 15 menit, dan memiliki variasi nada yang banyak.

Paling tidak untuk mempelajari Tabuh Pusuh Biu diperlukan waktu hingga dua minggu.

Meski sulit, Nyoman Widiana dan pemuda lain tetap bersemangat mempelajari tetabuhan ini.

Kepala Lingkungan Banjar Tatasan Kaja, I Made Pelaga pun mengaku senang dengan antusiasme anak muda mempelajari seni khas wilayahnya.

Ia berharap antusias ini akan terus ada hingga generasi berikutnya.

“Bagi kami upaya pelestarian budaya sangat penting. Banjar kami pun mengajak masyarakat aktif dalam kegiatan kesenian sejak anak-anak, dalam hal ini melalui keikutsertaan sekaa gong anak-anak,” ucap Made Pelaga. (*)

Penulis: Ni Putu Diah paramitha ganeshwari
Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved