Sejuk dan Asri, Awig-awig Desa Pakraman Pinge Larang Warganya Membangun Lewati Panyengker

Menurut cerita para tetua di banjar setempat, sejarah Banjar Pinge ini diperkirakan sudah ada pada saat abad ke-12

Sejuk dan Asri, Awig-awig Desa Pakraman Pinge Larang Warganya Membangun Lewati Panyengker
Tribun Bali/Made Prasetia Aryawan
Suasana yang sejuk dan asri sungguh terasa ketika berada di Banjar Pinge, Desa Baru, Kecamatan Marga, Tabanan, Selasa (12/2/2019). 

TRIBUN-BALI.COM - Suasana yang sejuk dan asri sungguh terasa ketika berada di Banjar Pinge, Desa Baru, Kecamatan Marga, Tabanan, Selasa (12/2/2019).

Wilayah yang sudah menjadi desa wisata ini terletak sekitar 500 meter diatas permukaan laut dan terletak sekitar 17 kilometer di utara Kota Tabanan.

Banjar ini memiliki panorama alam yang sungguh luar biasa. Mata para pengunjung akan dimanjakan dengan hamparan sawah yang membentang ditambah udara yang sejuk dan bangunan yang tertata rapi.

Selain menjadi desa wisata, Desa Pakraman Pinge ini pun memiliki sejumlah hal unik lainnya yang harus diketahui.

Diantaranya awig-awig tentang larangan membuat sebuah bangunan melewati tembok penyengker (pagar pembatas rumah) dan diwajibkan melakukan pembersihan kawasan rumah bagian depan setiap 15 hari sekali atau pada saat rerainan purnama dan tilem.

Bendesa Adat Pinge, I Made Denayasa menuturkan, menurut cerita para tetua di banjar setempat, sejarah Banjar Pinge ini diperkirakan sudah ada pada saat abad ke-12.

Hal itu ditandai dengan adanya palinggih di Pura Natar Jemeng yang disekelilingnya sudah ada pemukiman.

Dulunya ada tiga banjar yakni Banjar Pingelen, Meranggi, dan Tungging yang kemudian karena adanya kesepakatan saat itu, tiga banjar tersebut dijadikan satu dan bernama Banjar Pinge.    

Asal muasal dari kata “Pinge” sendiri diketahui saat abad 12 tersebut, di areal Pura Natar Jemeng ada pohon cepaka berwarna putih yang ukurannya sangat besar.

Ketika berbunga, harum dari bunga cepaka tersebut tercium hingga wilayah kerajaan Marga (sekitar 8 km). Kata Pinge diambil dari pohon tersebut, yang berarti putih atau suci.

Halaman
123
Penulis: I Made Prasetia Aryawan
Editor: Widyartha Suryawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved