Rencanakan Pembunuhan Orang Tua Kandungnya, Pemuda Ini Tak Berkutik Saat Dijebak Polisi

Rencana keji seorang pemuda untuk membunuh orang tua dan keluarganya demi menguasai harta terbongkar polisi.

Rencanakan Pembunuhan Orang Tua Kandungnya, Pemuda Ini Tak Berkutik Saat Dijebak Polisi
Tribunnews
Ilustrasi 

TRIBUN-BALI.COM, MOSKWA - Rencana keji seorang pemuda untuk membunuh orang tua dan keluarganya demi menguasai harta terbongkar polisi.

Sambil tersenyum seorang pemuda Rusia terekam kamera tengah mematangkan rencana untuk membunuh kedua orangtuanya dan adik perempuannya yang berusia 10 tahun.

Artyom Tepper duduk di dalam sebuah mobil Mercedes dan mengatakan dia akan menangis histeris setelah kedua orangtuanya tewas untuk menghilangkan kecurigaan.

Dalam video, yang dirilis badan investigasi negara itu, bahkan memperlihatkan Artyom mengelus sebilah pisau yang akan digunakan untuk membunuh keluarganya.

Motif di balik rencana jahat ini adalah keinginan Artyom untuk menguasai harta orangtuanya yang kaya.

Namun, di luar sepengetahuan Artyom, pembunuh bayaran yang diajaknya berbicara adalah seorang polisi yang menyamar.

Foto ini diambil dari rekaman video yang dirilis biro investigasi Rusia memperlihatkan Artyom Tepper tersenyum saat membeberkan rencana membunuh kedua orangtua dan adiknya kepada seorang pembunuh bayaran. Artyom tidak mengetahui bahwa pembunuh yang diajaknya berbicara adalah seorang polisi yang menyamar.
Foto ini diambil dari rekaman video yang dirilis biro investigasi Rusia memperlihatkan Artyom Tepper tersenyum saat membeberkan rencana membunuh kedua orangtua dan adiknya kepada seorang pembunuh bayaran. Artyom tidak mengetahui bahwa pembunuh yang diajaknya berbicara adalah seorang polisi yang menyamar. (Kompas.com via Mirror)

Kepada sang "pembunuh" Artyom membayar uang muka sebesar 3,2 juta rubel atau sekitar Rp 690 juta.

Dia menjanjikan akan membayar sisa uang jika sudah mendapatkan warisan dari orangtuanya yang kaya.

Sang "pembunuh" menyepakati pembayaran itu dan berjanji bertemu Artyom beberapa hari kemudian. Beberapa hari kemudian, si "pembunuh" bertemu Artyom dan memperlihatkan sejumlah foto yang memperlihatkan "jenazah" ayah dan ibu pemuda itu tergeletak bersimbah darah.

Saat melihat foto itu, Artyom nampaknya baru menyadari betapa kejam rencananya. Wajahnya seketika menjadi pucat dan dia berteriak.

Halaman
123
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved