Dewa Gede Palguna Minta Pemkab Bangli untuk Hati-Hati Menentukan Maskot

Suatu maskot hendaknya tidak ditetapkan sebagai ajang gagah-gagahan semata, sehingga paling tidak harus berfungsi sebagai edukasi, penyadaran,

Dewa Gede Palguna Minta Pemkab Bangli untuk Hati-Hati Menentukan Maskot
Tribun Bali/I Wayan Sui Suadnyana
Hakim Mahkamah Konstitusi yang juga asli Bangli, I Dewa Gede Palguna 

Laporan Jurnalis Tribun Bali, I Wayan Sui Suadnyana

TRIBUN-BALI.COM, BANGLI - Hakim Mahkamah Konstitusi yang juga asli Bangli, I Dewa Gede Palguna mengingatkan pemegang kebijakan, dalam hal ini Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bangli untuk berhati-hati menentukan pilihan.

Menurutnya, suatu maskot hendaknya tidak ditetapkan sebagai ajang gagah-gagahan semata, sehingga paling tidak harus berfungsi sebagai edukasi, penyadaran, dan pembangkit semangat.

Maskot, lanjutnya, hendaknya juga diharapkan selaras dengan simbol Pemkab Bangli yang sudah ada.

Maskot maupun simbol harus bermakna secara filosofis maupun praktis.

“Saya belum punya referensi (tentang maskot). Kalau secara historis, bukankah Bangli konon dulu berupa alas jarak bang alias hutan jarak merah (ada pada lambang Pemkab Bangli ?) Maka, harus tegas diferensiasi (antara) maskot dan simbol,” kata tokoh Bangli yang telah menjabat menjadi Hakim MK sejak 2015 ini.

Sebelumnya tersiar kabar bahwa Pemkab Bangli tengah kesulitan dalam mencari maskot untuk kabupaten yang berada di tengah-tengah pulau dewata itu.

Beredar juga kabar bahwa bunga gumitir akan dijadikan sebagai maskot, namun mendapat pertentangan dari sejumlah pihak.

Pertentangan itu muncul dalam Rembug Sastra bertajuk "Sastra, Bangli lan Merdeka Seratus Persen" sebagai pemungkas peringatan Bulan Bahasa Bali 2019, Sabtu (16/2/2019).

Baca: Terkait Usulan Sekar Padma, Carles: Apa Tidak Bisa Kopi atau Anjing Kintamani Dijadikan Maskot?

Baca: Terkait Wacana Maskot Kabupaten Bangli, Mantan Rektor IHDN Ikut Berkomentar 

Baca: Maskot Jadi Sorotan pada Rembug Sastra Bangli, Bukan Gumitir tapi Sekar Ini yang Dirasa Tepat

Rembug sastra itu digagas oleh Dewan Pimpinan Kabupaten Perhimpunan Pemuda Hindu (DPK Peradah) Indonesia Bangli yang bekerjasama dengan Pengurus Cabang Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (PC KMHDI) Bangli dan Komunitas Bangli Sastra Komala.

I Gde Agus Darma Putra, salah satu pembicara dalam rembug sastra ini memaparkan, sekar padma atau bunga tunjung rasanya menjadi pilihan tepat untuk maskot kabupaten yang berada di tengah-tengah pulau Bali ini.

Dharma Putra mengatakan, meski sekar padma lahir dari lumpur, ia tidak dikotori oleh lumpur.

Karena itulah sekar padma ini menjadi sebuah simbol kesucian, sehingga tidak mengherankan bahwa padma ini menjadi tempat duduk atau "asana" dari para dewa-dewi.

Sekar padma dinilai cocok untuk maskot Bangli karena dipandang kaya akan filosofis dan sejalan dengan kondisi eko-religius Bangli yang sangat sentral bagi Bali. (*)

Penulis: I Wayan Sui Suadnyana
Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved