Soal Rencana Peningkatan Retribusi Sandar, Perbaikan 3 Dermaga di Danau Batur Butuh Rp 7,6 M

kondisi Dermaga utamanya di Kedisan dan Terunyan desa, kenyataannya hingga kini masih tenggelam akibat luapan air danau Batur.

Soal Rencana Peningkatan Retribusi Sandar, Perbaikan 3 Dermaga di Danau Batur Butuh Rp 7,6 M
Tribun Bali/M. Fredey Mercury
Kondisi dermaga Kedisan yang terendam luapan Danau Batur, Senin (18/2/2019) 

TRIBUN-BALI.COM, BANGLI – Rencana peningkatan tarif retribusi sandar maupun operasional sesuai usulan dalam ranperda tentang Retribusi Pelayanan Kepelabuhan, ditindaklanjuti sejumlah anggota DPRD Bangli dengan langsung turun ke lapangan.

Upaya ini untuk melihat langsung kondisi riil Dermaga Kedisan, Dermaga Terunyan Desa, maupun Dermaga Terunyan Kuburan.

Berdasarkan pantauan Senin (18/2), kondisi Dermaga utamanya di Kedisan dan Terunyan Desa, kenyataannya hingga kini masih tenggelam akibat luapan air danau Batur.

Wakil Ketua DPRD Bangli, I Nyoman Basma yang saat itu mendampingi kunjungan menjelaskan selain melihat kondisi riil, tujuan kunjungan juga untuk mendengar pendapat masyarakat selaku wisatawan serta para pengusaha angkutan penyeberangan.

Sebab kini, lanjut Basma, pihaknya tengah menggodok Ranperda tetang Retribusi Pelayanan Kepelabuhan.

“Dasarnya karena Perda sebelumnya yang diterbitkan tahun 2011, belum pernah dilakukan revisi dan evaluasi. Sebab itu dalam prosesnya kami perlu masukan. Jangan sampai perda yang kami sahkan nantinya justru menimbulkan pro-kontra,” ujar Basma.

Disebutkan, pada perda sebelumnya biaya sandar tercatat sebesar Rp. 4.900 yang dihitung berdasarkan Rp. 500 kali panjang kapal per meter.

Sedangkan biaya operasional pelabuhan ditentukan sebesar Rp. 5 ribu. Jumlah tersebut diakui Basma terlalu kecil, sebab menurutnya harus ada symbiosis mutualisme yang berdampak langsung jika tidak adanya retribusi.

“Ini kan suatu nominal yang cukup kecil. Ada dan tidaknya retribusi ini juga tidak akan terasa. Berdasarkan komunikasi langsung bersama para pengusaha yang tergabung dalam Gapasdap, mereka mengaku tidak keberatan. Sebab kenaikan tarif ini berimplikasi pada wistawan. Dan jika dibandingkan dengan objek wisata lain yang sama, kenaikan yang kami rancang ini masih tergolong rendah, karena di objek lain biaya masuk saja sudah Rp. 50 ribu,” katanya.

Sementara jika dibandingkan dengan objek wisata di Terunyan, Basma mengatakan masih jauh lebih menarik. Sebab selain objek wisata kuburan, perjalanan jalur air dari dermaga Kedisan wisatawan akan disuguhkan dengan pemandangan alam, salah satunya Gunung Batur dan Gunung Abang.

Halaman
12
Penulis: Muhammad Fredey Mercury
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved