26 Tahun Hidup di Gubuk Tanah, Suriani: Saya Khawatir Temboknya Sudah Retak-retak

Ni Wayan Karian sudah sejak 26 tahun lalu tinggal di rumah rusak parah bersama keponakannya Ni Wayan Suriani

26 Tahun Hidup di Gubuk Tanah, Suriani: Saya Khawatir Temboknya Sudah Retak-retak
Tribun Bali/Eka Mita Suputra
Kondisi kediaman Ni Wayan Karian dan Ni Wayan Suriani di Dusun Gembalan, Desa Selat, Klungkung, Minggu (24/2/2019). 

TRIBUN-BALI.COM, SEMARAPURA - Tatapan mata Ni Wayan Karian (80), tampak sayu saat didatangi di kediamannya di Dusun Gembalan, Desa Selat, Klungkung, Minggu (24/2/2019).

Perempuan renta ini sudah sejak 26 tahun lalu tinggal di rumah rusak parah bersama keponakannya Ni Wayan Suriani (50).

Matahari siang itu cukup terik. Ni Wayan Suriani berada di rumah yang letaknya di tegalan tak jauh dari pemukiman warga sekitar.

Ia menceritakan, sejak kecil dirawat oleh bibinya, Ni Wayan Karian. Ia menempati rumah dalam keadaan rusak itu sejak 26 tahun lalu.

“Saya khawatir roboh karena temboknya sudah retak-retak," keluh Suriani.

Baca: Kisah Lanang, Remaja Mendoyo Jembrana yang Berjuang demi Pendidikan dan Neneknya

Kondisi rumah dari keluarga itu benar-benar memprihatinkan.

Mereka tinggal di rumah yang sudah dalam keadaan rusak berat, bahkan tidak layak huni. Kediamannya berukuran 3x2,5 meter.

Hanya bertembok tanah liat yang retak-retak. Tidak ada lantai di rumah itu, hanya tanah yang terkadang tergenang air dan becek saat hujan.

Atap rumahnya itu sudah diganti seng. Sementara di dalam kamar, tampak tempat tidur berukuran sekitar 1x1,5 meter.

Di kamar itu juga dibuat sekat dari bambu yang berfungsi untuk menaruh perabotan. Sementara untuk memasak, Suriani melaukannya di teras darurat yang berisikan tumpukan kayu bakar.

Halaman
12
Penulis: Eka Mita Suputra
Editor: Widyartha Suryawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved