Tradisi Ngerebeg di Kediri Tabanan Akan Ditetapkan sebagai WBTB Tahun Ini

Tradisi Ngrebeg yang juga terkait Keris Ki Baru Gajah akan ditetapkan menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) tahun 2019 ini

Tradisi Ngerebeg di Kediri Tabanan Akan Ditetapkan sebagai WBTB Tahun Ini
Tribun Bali/Made Prasetia Aryawan
Pelaksanan tradisi ngerebeg yang juga terkait dengan Keris Ki Baru Gajah di Kecamatan Kediri belum lama ini. 

TRIBUN-BALI.COM, TABANAN – Tradisi Ngrebeg yang juga terkait Keris Ki Baru Gajah akan ditetapkan menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) tahun ini. Saat ini hanya tinggal menunggu kongres yang akan diaksanakan pada September mendatang.

Sementara untuk karya budaya lainnya yang diajukan sudah dilakukan pencatatan untuk akan ditetapkan pada tahun 2020 mendatang.

“Untuk tahun ini, tradisi ngerebeg yang ada di Kediri akan ditetapkan. Dari rapat terakhir di Provinsi Bali, kita kembali untuk pencatatan untuk akan ditetapkan tahun 2020,” kata Kepala Bidang Kebudayaan dan Tradisi Dinas Kebudayaan Tabanan, Anak Agung Sagung Mas Anggraini, Selasa (26/2/2019).  

Yang sudah dicatatkan Dinas Kebudayaan Tabanan untuk WBTB, kata dia, diantaranya adalah permainan tradisional megandu di Banjar Ole, Desa Marga Dauh Puri, Kecamatan Marga.

Dua kuliner khas Tabanan yang diajukan menjadi warisan budaya tak benda yakni jukut gondo dan teh beras merah.

Adapun ayunan jantra yang berada di wilayah Marga, dan permainan mandolin yang berada di wilayah Desa Pujungan, Kecamatan Pupuan.

“Jika untuk mencatatkan itu sebanyak mungkin bisa, dan jika untuk pengusulan penetapan baru bisa satu saja untuk tahun ini yakni Ngerebeg yang ada Di Desa Adat Kediri yang juga terkait dengan Keris Ki Baru Gajah,” jelasnya.

Dia menjelaskan, tradisi ngerebeg tersebut diarak oleh pihak Puri Kediri dan enam banjar setempat pada Hari Raya Kuningan.

Nah, untuk penetapannya nanti masih menunggu hasil kongres yang akan dilaksanakan di Jakarta pada September mendatang.

Terkait tradisi ngerebeg di Kediri, lanjut Sagung Mas, sudah ada dua judul tesis yang meneliti tentang tradisi tersebut sebagai kajian akademik.

Dua tesis itu pula yang menjadi acuan kajian ilmiahnya. Kemudian juga dilengkapi dengan dokumentasi dan audio visualnya.

“Nanti kita akan presentasi pada kongres tersebut juga dengan tim yang didalamnya juga terlibat Dinas Kebudayaan Provinsi Bali,” imbuhnya.  

Persiapan untuk pengajuan  karya ini harus melalui beberapa tahap proses.

Dimulai dari proses pencatatan, kemudian ada juga beberapa persyaratan lain seperti kajian ilmiah, dokumentasi, dan audio visualnya. 

“Intinya kami catatkan dulu kemudian diajukan, soal layak tak layak itu dinilai lagi oleh tim. Dan jika misalnya dari karya yang dicatatkan masih ada yang belum layak, kami ajukan lagi di tahun berikutnya,” tandasnya. (*)

Penulis: I Made Prasetia Aryawan
Editor: Widyartha Suryawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved