Populasi Sapi di Bangli Turun Sejak Eruspi Tohlangkir

Penurunan jumlah populasi sapi pada tahun 2017 terjadi lantaran erupsi Gunung Agung yang menimbulkan kekhawatiran di kalangan peternak

Populasi Sapi di Bangli Turun Sejak Eruspi Tohlangkir
Tribun Bali / Fredey Mercury
Peternak sapi di Bangli tampak memberikan sapi-sapinya pakan, Jumat (1/3/2019). 

TRIBUN-BALI.COM, BANGLI - Populasi sapi di wilayah Bangli kini digenjot. Satu di antaranya dengan mengembangkan rumput jenis indigofera. Ini dilakukan karena sapi di Bangli mengalami penurunan drastis pada tahun 2016-2017.

Berdasarkan data jumlah populasi sapi pada tahun 2016 yakni 74.793 ekor. Sedangkan pada tahun 2017, jumlahnya mengalami penurunan drastis menjadi 64.754 ekor, dan sedikit mengalami peningkatan pada tahun 2018 menjadi 66.994 ekor.

Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan (Dinas PKP) Kabupaten Bangli, I Wayan Sukartana mengungkapkan, penurunan jumlah populasi sapi pada tahun 2017 terjadi lantaran erupsi Gunung Agung yang menimbulkan kekhawatiran di kalangan peternak.

"Peternak khawatir tidak dapat rumput bagi sapinya, karena banyak rumput yang mati akibat paparan abu vulkanik. Sebab itulah banyak di antara mereka (peternak) memilih untuk menjual sapinya," ujar Sukartana, Jumat (1/3/2019).

Mengantisipasi penurunan populasi sapi, khususnya sapi Bali, Sukartana mengatakan salah satu upaya yakni menerapkan program sapi indukan wajib bunting (siwab).

Sasarannya yakni sapi betina berusia dua hingga delapan tahun dan belum bunting.

"Salah satu caranya dengan siwab ini. Sedangkan penerapan siwab, tujuannya untuk memaksimalkan potensi sapi indukan melalui kawin suntik atau inseminasi buatan," katanya.

Selain melalui program siwab, Sukartana mengatakan saat ini pihaknya masih berupaya untuk mengembangkan rumput indigofera di beberapa kelompok pertanian.

Jelasnya, indigofera merupakan jenis rumput yang berbeda dengan jenis lainnya, sebab dari segi kandungan di dalamnya, indigofera memiliki protein yang relatif lebih tinggi.

Sebab itu pula, pihaknya menilai konsumsi rumput indigofera mampu meningkatkan berat badan sapi lebih cepat, dengan kualitas daging lebih bagus.

"Disamping karena kandungan protein yang lebih tinggi, keunggulan lain rumput indigofera pertumbuhannya sangat cepat jika dibudidayakan dengan baik," ujar Sukartana.

Meskipun dinilai cukup baik, pengembangan rumput indigofera di Bangli saat ini masih dalam skala kecil di beberapa kelompok pertanian.

Sebab pada beberapa tahun terakhir, pengembangan rumput indigofera belum diprogramkan di Bangli.

Namun pada tahun 2019, Sukartana menegaskan segera mengembangkan rumput indigofera secara besar-besaran berdasarkan bantuan dari BPVet.

“Terutama akan kami kembangkan di daerah Kintamani, dengan penghitungan satu hektare rumput indigofera untuk konsumsi empat ekor sapi,” ungkapnya. (*)

Penulis: Muhammad Fredey Mercury
Editor: Widyartha Suryawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved