Muliakan Roh Hewan Kurban, Ratusan Warga Ikuti Ritual Mapepada di Catus Pata Kota Semarapura

Ratusan warga memadati area catus pata di pusat kota Semarapura, Selasa (5/3/2019).

Muliakan Roh Hewan Kurban, Ratusan Warga Ikuti Ritual Mapepada di Catus Pata Kota Semarapura
Tribun Bali/Eka Mita Suputra
Krama Klungkung ketika menggelar tradisi mapepada di area catus pata di pusat kota Semarapura, Selasa (5/3) 

TRIBUN-BALI.COM, SEMARAPURA - Ratusan warga memadati area catus pata di pusat kota Semarapura, Selasa (5/3/2019).

Ratusan warga tersebut melakukan Upacara Mapepada yang bertujuan untuk menyucikan semua jenis wewalungan (hewan sarana upacara) yang akan dipergunakan dalam Upacara Tawur Kesanga.

Dengan diiringi gamelan, ratusan warga Klungkung, berjalan mengitari catus pata sembari membawa berbagai sarana upacara, termasuk wewalungan (hewan sarana upacara) seperti sapi, kambing, babi dan lainnya.

Panitia Upacara Dewa Ketut Soma menjelaskan, Upacara Mapepada dilaksanakan sehari sebelum Upacara Tawur Kesanga serangkaian Hari Raya Nyepi.

Tahun ini, Upacara Mapepada disiapkan oleh Krama Desa Pakraman Nyangelan, Banjarangkan dan dipuput Ida Dalem Surya Dharma Sogata dari Puri Agung Klungkung.

Baca: Surat Edaran Kemkominfo Keluar, Pemprov Bali Pastikan Internet Mati Pada saat Hari Raya Nyepi

Baca: Saat Nyepi, RSUP Sanglah Siagakan 7 Dokter Spesialis, 100 Residen dan 75 Perawat

Selain dihadiri masyarakat, ritual ini juga dihadiri Wakil Bupati Klungkung Made Kasta dan jajaran OPD di lingkungan Pemkab Klungkung.

"Upacara Mapepada merupakan upacara untuk mensucikan wewalungan (hewan korban), yang digunakan untuk melengkapi rangkaian Upacara Tawur Agung Kesanga," ujar Dewa Ketut Soma

Hewan wewalungan itu meliputi kerbau, kambing hitam dan putih, sapi, anjing bangbungkem, babi hitam, angsa, ayam manca dan ayam panyirang, bebek belang kalung dan putih, penyu dan sarana upakara lainnya.

Dalam ritual tersebut, binatang yang digunakan sebagai sarana upacara itu disucikan, didoakan dan dituntun murwa daksina (mengitari) catus pata Kota Semarapura sebanyak 3 kali putaran arah jarum jam.

Baca: 30 Ogoh-Ogoh Akan Diparadekan dalam MAC Festival, Berikut Harga Tiket Jika Ingin Nonton Lebih Dekat

Baca: DPD Organda Bali Minta Gubernur untuk Kaji Pembangunan Dua Jalan Short-Cut Denpasar-Singaraja

Sesuai keyakinan, semua hewan korban suci itu diantarkan ke dewa sesuai dengan pengelompokannya.

Binatang berkaki dua diantarkan ke Iswara, binatang kaki empat diantarkan ke Brahma, binatang yang merangkak seperti penyu diantarkan kehadapan Mahadewa.

Sementara untuk ikan dan binatang tanpa kaki diantarkan kepada Dewa Wisnu.

Baca: H-2 Nyepi Swalayan Tiara Dewata Dipadati Pengunjung

Selanjutnya untuk pepohonan seperti pohon pisang dan belimbing diantarkan kepada Dewa Siwa.

“Proses purwa daksina ini untuk mengantarkan rohnya kembali ke asalnya. Berdasarkan keyakinan umat hindu, upacara ini untuk meningkatkan kualitas roh hewan korban, agar nanti terlahir kembali menjadi mahluk yang lebih tinggi drajatnya," terang Dewa Ketut Soma. (*)

Penulis: Eka Mita Suputra
Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved