Rusak Parah dan Tak Beraturan, Senderan Pantai Ujung Dikeluhkan Nelayan

Senderan batu di Pesisir Pantai Ujung dikeluhkan sejumlah nelayan lantaran kondisi senderan rusak parah dan tidak beraturan

Rusak Parah dan Tak Beraturan, Senderan Pantai Ujung Dikeluhkan Nelayan
Tribun Bali/Saiful Rohim
Senderan batu di Pesisir Pantai Ujung, Banjar Ujung Pesisi, Desa Tumbu, Kecamatan Karangasem rusak parah. 

TRIBUN-BALI.COM, AMLAPURA - Senderan batu di Pesisir Pantai Ujung, Banjar Ujung Pesisi, Desa Tumbu, Kecamatan Karangasem dikeluhkan sejumlah nelayan lantaran kondisi senderan rusak parah dan tak beraturan.

Nurfiah, nelayan asal Ujung Pesisi mengatakan, kondisi senderan rusak sekitar tahun 2010 lalu.

Kondisi senderan tidak datar, ada bentuknya menonjol dan berlubang.

Baca: Tradisi Munjung saat Kesanga atau H-1 Nyepi di Desa Selumbung

Baca: Cerita Shortcut Canggu di Jalan Echo Beach di Tahun 2007 yang Mungkin Belum Kamu Ketahui

Akibatnya nelayan kesulitan saat menurunkan perahunya.

"Kondisi ini menghambat aktivitas nelayan saat turun dan balik melaut. Nelayan di Ujung Pesisi semuanya mengeluh. Mereka harus hati-hati saat menurunkan dan naikkan perahu," kata Nurfiah ditemui di Ujung Pesisi, Rabu (6/3/2019).

Nelayan di Ujung Pesisi yang memarkirkan perahu di atas senderan mencapai 300an.

Baca: Gelar Kegiatan Dialogis, Satgas TMMD Bangli Memotivasi Warga di Desa Peninjoan

Baca: Shotcut Canggu yang Viral dengan Kendaraan Nyemplung di Sawah, Ada Rencana Pelebaran

Nelayan harus berhati-hati, khawatir perahunya terbentur bebatuan.

Dari tahun lalu hampir puluhan jukung nelayan rusak akibat terbentur bebatuan.

"Kami berharap pemerintah segera menata senderan ini demi nelayan. Dulu pernah ada petugas mensurvei, tapi hingga sekarang nggak ada kelanjutan. Kami berharap pemerintah segera turun memperbaiki," harapnya.

Baca: Demi Saudara Kandung, Pramono Edie Donorkan Sumsum Tulang Belakangnya untuk Ani Yudhoyono

Baca: Dua Cara Menikmati Indahnya Nyepi di Bali, Ini Akan Sangat Berbeda Dari Daerah Lainnya

Untuk diketahui, pembangunan senderan dilakukan sejak tahun 2008 oleh pemerintah daerah dengan panjang sekitar 2 kilometer.

Sayangnya, senderan mulai rusak sejak tahun 2010 karena tergerus ombak.

Bukan tanpa usaha, nelaya juga sempat melakukan penataan, tapi kembali rusak.(*)

Penulis: Saiful Rohim
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved