Tawur Kesanga Dilaksanakan Sehari Sebelum Nyepi Saat Sandikala , Ini Prosesinya

Tawur ini dilaksanakan sehari sebelum Nyepi atau lebih tepatnya saat Tilem Sasih Kasanga

Tawur Kesanga Dilaksanakan Sehari Sebelum Nyepi Saat Sandikala , Ini Prosesinya
Istimewa
Ogoh-ogoh dari ST Tunas Muda Banjar Dukuh Mertajati, Kelurahan Sidakarya yang memperoleh poin tertinggi dari Dinas Kebudayaan Kota Denpasar, Jumat (1/3/2019). 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR- Rangkaian Hari Raya Nyepi setelah Melasti adalah Tawur Kesanga.

Tawur ini dilaksanakan sehari sebelum Nyepi atau lebih tepatnya saat Tilem Sasih Kasanga dan sebelum melaksanakan pangerupukan, dilaksanakan Tawur terlebih dahulu.

"Pangerupukan ini yang menjadi populer sekarang karena ada tradisi ogoh-ogoh, namun itu bagian dari pangerupukan sebenarnya yang dilaksanakan setelah melakukan upacara Bhuta Yadnya atau tawur yang dilakukan di catus pata atau perempatan," kata Putu Eka Guna Yasa, Dosen Bahasa Bali Unud sebagaimana yang ia baca di Lontar Sundarigama.

Sehingga saat Tileming sasih kesanga upacara Bhuta Yadnya atau tawur harus dilakukan terlebih dahulu sebelum pangerupukan, karena dalam teks Sundarigama disebutkan:

Ring catur dasi ikang kresnapaksa, agawe akena Bhuta Yadnya rikeng catuspataning desa.

Artinya: Ketika tepat paruh gelap atau bulan mati atau tilem, laksanakanlah upacara bhuta yadnya itu, yang bertempat di perempatan desa.

"Itulah yang menyebabkan saat Tawur Kesanga jika masuk ke desa-desa kita akan banyak melihat ada upacara-upacara caru di perempatan desa. Kenapa perempatan? Karena di perempatan itu bertemu ruang dan waktu. Karena di perempatan itu kita memuja ruang dan waktu dan diangap sebagai titik sentral," kata Guna.

Lebih lanjut dalam teks Sundarigama dikatakan:

Nisatania panca sata madia panca sanak, utamania catur agung, yama raja pinuja dening sang maha pandita siwa budha.

"Artinya tingkatan upacara melakukan Bhuta Yadnya Tawur Kesanga, dalam tingkatan nista atau kecil yaitu Panca Sata menggunakan lima jenis ayam, madia menggunakan caru panca sanak, utama catur agung, dipuja oleh maha pandita yaitu Siwa Buda," kata guna menerjemahkan.

Halaman
1234
Penulis: Putu Supartika
Editor: Eviera Paramita Sandi
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved