Dharma Wacana

Kematian dan Panca Wali Krama di Besakih

Piodalan Panca Wali Krama di Pura Besakih yang melarang adanya aktivitas kematian, menyebabkan banyak kamar jenazah di rumah sakit overload

Kematian dan Panca Wali Krama di Besakih
TRIBUN BALI
Ida Pandita Mpu Jaya Acharya Nanda 

 Oleh Ida Pandita Mpu Jaya Acharya Nanda

TRIBUN-BALI.COM, - Piodalan Panca Wali Krama di Pura Besakih yang melarang adanya aktivitas kematian, menyebabkan banyak kamar jenazah di rumah sakit overload atau tak muat.

Bahkan tidak sedikit pula umat Hindu di Bali membawa keluarganya yang sakit keras untuk tinggal di luar Bali.

Hal itu untuk mengantisipasi ketika ajal menjemput, mereka mendapatkan tempat untuk menitipkan jenazah sampai piodalan di Pura Besakih selesai.

Jika di suatu desa adat menerapkan tradisi mekingsan ring pertiwi (dikubur), tentu masyarakat sedikit bisa bernafas lega lantaran jenazah bisa dikubur dengan cara nyulubin.

Namun jika desa adatnya menerapkan tradisi mekingsan ring gni (dibakar), tentu membuat warga menjadi kesulitan.

Apakah memang tidak diperbolehkan menggelar ritual kremasi serangkaian Panca Wali Krama di Pura Besakih?

Saya tidak memungkiri, keputusan yang melarang ritual kematian serangkaian Panca Wali Krama di Pura Besakih telah menimbulkan dialektika.

Bahkan saya sendiri banyak mendapatkan komplain terkait ini.

Katanya, kok orang yang pulang pada Tuhan dihambat?

Halaman
1234
Penulis: I Wayan Eri Gunarta
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved