Apakah Seseorang Boleh Menikah Saat Otonan?

Pinandita Ketut Pasek Swastika mengatakan, upacara pernikahan saat otonan diperbolehkan

Apakah Seseorang Boleh Menikah Saat Otonan?
Facebook.com/ Wahyu Hariyanti
Ilustrasi pawiwahan atau pernikahan adat Bali. 

Laporan Wartawan Tribun Bali, I Putu Supartika

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Pada minggu-minggu ini, banyak sekali masyarakat Bali yang melangsungkan upacara pernikahan atau pawiwahan.

Bahkan di beberapa sudut jalan di Bali akan kita temui hiasan-hiasan dari janur yang mencirikan bahwa di rumah tersebut sedang dilangsungkan upacara pernikahan.

Beberapa orang pun sering berseloroh bahwa dirinya mendapat undangan pernikahan dari sahabat, keluarga, atau teman kerjanya.

Apa penyebab orang banyak melakukan upacara pernikahan saat minggu-minggu ini?

Wakil Ketua PHDI Bali, Pinandita Ketut Pasek Swastika ketika dihubungi, Selasa (12/3/2019) pagi mengatakan bahwa usai duapuluh satu Galungan, sudah ada dewasa atau hari baik untuk melangsungkan pernikahan.

“Nikah itu saat selikur Galungan ada. Wuku Krulut sudah dimulai dewasa nganten ini hingga wuku Dukut itu ada. Selain itu, dewasa nganten juga ada pada wuku Landep, Ukir, Kulantir,” kata Pinandita Ketut Pasek Swastika.

Sementara saat yang tidak boleh untuk melangsungkan upacara pernikahan yakni pada wuku Tolu hingga wuku Pahang.

Dimana selama 42 hari dari 21 hari sebelum Galungan sampai Budha Kliwon Pahang tidak ada dewasa.

“Kalau nganten di Manis Galungan atau Manis Kuningan berarti tidak boleh melangsungkan widiwidana atau manusa yadnya. Tidak tertutup kemungkinan setelah perempuan dipinang akan berhubungan badan, artinya tidak sah karena tidak dibolehkan oleh sastra berhubungan badan kalau belum diresmikan,” katanya.

Halaman
12
Penulis: Putu Supartika
Editor: Widyartha Suryawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved