Selama 4 Tahun Terakhir, Ekspor Produk Pertanian Bali Meningkat hingga 199,4 Persen

Syukur Iwantoro mengatakan ekspor produk pertanian dari Bali meningkat tajam dalam kurun waktu empat tahun terkahir

Selama 4 Tahun Terakhir, Ekspor Produk Pertanian Bali Meningkat hingga 199,4 Persen
Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi Bali
Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian, Syukur Iwantoro saat hadir di acara ‘Pencanangan Gerakan Petani Milenial Provinsi Bali tahun 2019 menuju Lumbung Pangan Dunia tahun 2045’ di Bagus Agro, Desa Pelaga, Kabupaten Badung, Selasa (12/3/2019). 

Laporan Wartawan Tribun Bali, I Wayan Sui Suadnyana

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian, Syukur Iwantoro mengatakan ekspor produk pertanian dari Bali meningkat tajam dalam kurun waktu empat tahun terkahir.

Tidak tanggung-tanggung, volume ekspor produk pertanian Bali disebutnya meningkat hingga 199,4 persen dimana 75 persennya merupakan ekspor hasil perkebunan.

“Kopi Kintamani sekarang jadi primadona di pasar dunia. Kami di Kementan sangat mengapresiasi hal ini dan untuk tahun depan anggaran untuk Bali ditingkatkan menjadi 285,9 miliar untuk tahun 2019,” kata dia.

Baca: Penutupan Porseni PAUD 2019, 4 Gugus Ini Raih Juara Umum

Baca: Dinkes Denpasar Target Distribusikan 2.725.271 Tablet Pil untuk Siswi SMP dan Ibu Hamil

Hal itu Syukur paparkan saat hadir di acara Pencanangan Gerakan Petani Milenial Provinsi Bali tahun 2019 menuju Lumbung Pangan Dunia tahun 2045, di Bagus Agro, Desa Pelaga, Kabupaten Badung, Selasa (12/3/2019).

Selain memuji peningkatan ekspor produk pertanian Bali, Syukur juga mengapresiasi tingkat inflasi pangan di Bali yang mencapai minus di angka 0,7 persen.

“Dalam 4 tahun terakhir, kerja keras kita semua dengan petani sebagai motor penggeraknya telah mampu menurunkan inflasi pangan dari yang sebelumnya 10,57 persen dan sekarang tinggal 1,26 persen. Bahkan di Bali, inflasi pangan sampai di angka minus 0,7 persen. Ini sangat signifikan dan bisa dirasakan dengan harga pangan yang relatif stabil,” urai Syukur.

Baca: Pecalang Akan Dibuatkan Asosiasi Sampai Tingkat Provinsi, Diberi Pelatihan hingga Materi Kamtibmas

Baca: Equnix Kampanyekan Open Source Tingkatkan Daya Saing Technopreneur

Dijelaskannya pula, dalam masa pemerintahan Presiden Joko Widodo selama 4 tahun terakhir, sektor pertanian menjadi salah satu sektor dengan prioritas utama.

Hal itu terbukti dengan adanya berbagai kebijakan yang mendukung terciptanya kondisi yang layak bagi para petani, baik dari sisi produksi hingga pemasarannya.

Tahun 2019 ini, menurut Syukur, juga akan dicanangkan menjadi tonggak alih generasi petani di Indonesia dengan program-program yang ditujukan untuk regenerasi profesi petani kepada kaum milenial.

“Ini tantangan kita ke depannya termasuk juga untuk para petani di Bali,” jelas Syukur.

Baca: Cara Isi SPT Online Gampang dan Cepat, Lapor Pajak Tepat Waktu yuk!

Baca: Luna Maya Akhirnya Membuka Hati, Sosok Lelaki itu Disebut Lebih Baik dari Reino Barack

Dalam kesempatan itu ia juga menyebut bahwa seringkali sektor pertanian dianggap sebagai sektor yang terpinggirkan.

Apalagi, kata dia, banyak pertanyaan yang mengemuka apakah dengan menjadi petani bisa kaya.

Syukur menilai, dengan menjadi petani seseorang juga bisa kaya, terlebih di Bali pertanian bisa disinergikan dengan sektor pariwisata.

“Ada link yang bisa menghubungkan petani dan pelaku pariwisata serta wisatawan agar produk hasil pertanian bisa diserap oleh sektor pariwisata,” tegas syukur.(*)

Penulis: I Wayan Sui Suadnyana
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved