Pohon Sakral Berusia 200 Tahun Tumbang, Warga Sampai Kerasukan, DPBD Belum Diizinkan Evakuasi

Pohon tersebut tumbang dan menimpa sejumlah pelinggih yang ada di areal Pura Dalem Desa Pakraman Joanyar Kajanan tampak hancur, Kamis (14/3/2019).

Pohon Sakral Berusia 200 Tahun Tumbang, Warga Sampai Kerasukan, DPBD Belum Diizinkan Evakuasi
TRIBUN BALI/RATU AYU DESIANI
Kelian Adat Desa Pakraman Joanyar Kajanan, Ketut Suyasa menunjukkan pelinggih di areal Pura Dalem Desa Pakraman Joanyar Kajanan yang rusak akibat tertimpa pohon asam yang tumbang, Kamis (14/3/2019) 

Pohon Sakral Berusia 200 Tumbang, Warga Sampai Kerahuan, DPBD Belum Diizinkan Lakukan Pembersihan

TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Pohon asam berusia 200 tahun tumbang.

Pohon tersebut tumbang dan menimpa sejumlah pelinggih yang ada di areal Pura Dalem Desa Pakraman Joanyar Kajanan tampak hancur, Kamis (14/3/2019).

Pohon asam yang tingginya sekitar 45 meter, tumbang akibat diterpa angin kencang.

Kelian Adat Desa Pakraman Joanyar Kajanan, Ketut Suyasa menuturkan, pohon yang diperkirakan berusia ratusan tahun itu tumbang pada pukul 20.00 WITA pada Selasa (12/3/2019).

Baca: Begini Kondisi Tingkat Hunian di Bali Versi Ketua DPC PHRI Badung, Singgung Wisman China

Baca: Pencuri Burung Tinggalkan Motor Saat Ketahuan, ‘Badeng Ditembak Karena Mencoba Kabur’

Baca: Mahasiswi Ini Ceritakan Proses Aborsi Dibantu Pacarnya, dari Kontraksi hingga Bayi Disimpan di Dus

Baca: Nama Pengusaha Besar di Bali Akan Diungkap di Persidangan, Disebut Pelanggan Vanessa Angel

Baca: Pelaku Sudah di Kamar, Menarik, dan Matikan Lampu, Setelah Diperkosa Sekuriti, Korban Ketakutan

Saat itu hujan memang turun dengan deras, disertai dengan angin kencang.

Namun masyarakat baru mengetahui musibah ini pada keesokan paginya.

Tampak piasan pura dalem dan pelinggih taru asam mengalami kerusakan berat.

Pun pelinggih sekepat sari, surya dan taksu juga mengalami kerusakan, namun dalam kategori sedang.

Dahan-dahan dari pohon asam tersebut tampak masih dibiarkan menimpa pelinggih-pelinggih tersebut.

Masyarakat belum berani membersihkan, sebab diyakini pohon berusia 200 tahun itu tergolong kramat.

Bahkan sebut Suyasa, saat kejadian, ada seorang masyarakat desa setempat mengalami kerauhan.

Untuk itu dalam waktu dekat, warga,akan melakukan nunas baos serta menggelar upacara secara niskala.

"Pihak BPBD sudah ingin membantu kami membersihkan pohon yang tumbang ini. Namun belum kami izinkan karena pura ini sangat pingit sekali," terang Suyasa. (*)

Penulis: Ratu Ayu Astri Desiani
Editor: Rizki Laelani
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved