Putus Cinta Seperti Putus Obat untuk Pencandu, Ini Cara Cepat Sembuhkan Putus Cinta Menurut Psikolog

Berpisah dengan orang yang kita cintai memang menyakitkan. Namun, terkadang kisah asmara memang tak selalu berakhir bahagia.

Putus Cinta Seperti Putus Obat untuk Pencandu, Ini Cara Cepat Sembuhkan Putus Cinta Menurut Psikolog
kompas.com
Ilustrasi 

TRIBUN-BALI.COM — Berpisah dengan orang yang kita cintai memang menyakitkan. Namun, terkadang kisah asmara memang tak selalu berakhir bahagia.

Ya, putus cinta sangat menyakitkan. Bahkan, dalam beberapa kasus bisa berakibat depresi.

Seorang psikolog bernama Guy Winch mengatakan, berpisah dengan orang yang kita cintai bisa memengaruhi diri kita jauh lebih parah daripada yang kita sadari.

Menurutnya, putus cinta dapat mengaktifkan mekanisme yang sama pada otak, persis seperti yang terjadi ketika pencandu mengalami penarikan atau putus obat dari zat kokain atau opioid.

Putus obat adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan sindrom dari efek yang disebabkan oleh penghentian pemberian obat.

Pencandu yang mengalami gejala putus obat akan merasakan sakit dan dapat menunjukkan banyak gejala, seperti sakit kepala, diare, atau gemetar (tremor).

Nah, kesamaan ini pun telah dibuktikan lewat studi pemindaian MRI otak fungsional.

Baca: Misteri di Balik Angka 13 yang Sering Dianggap Angka Sial

Baca: TRIBUN WIKI - Tak Hanya Lumba-Lumba, 10 Air Terjun yang Wajib Dijelajahi di Bali Utara

"Dengan kata lain, cinta itu membuat ketagihan, dan patah hati menyebabkan kita mengalami reaksi serupa putus obat yang kuat," ucapnya.

Menurutnya, inilah yang membuat banyak orang masih terobsesi dengan mantan kekasih seolah-olah mereka adalah obat yang telah dihilangkan.

"Ini juga mengapa sangat sulit untuk berpindah hati ke orang lain karena kita cenderung berpikir mantan kita adalah sosok ideal," katanya.

Halaman
1234
Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved