Lewat Album “Fortius”, Parau Sampaikan Kobar Semangat untuk Kian Tangguh

Unit metal-hardcore asal Bali, Parau, merilis album penuh ke empat yang berjudul Fortius pada 23 Februari 2019 lalu

Lewat Album “Fortius”, Parau Sampaikan Kobar Semangat untuk Kian Tangguh
Istimewa/dok. Parau
Parau 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Unit metal-hardcore asal Bali, Parau, merilis album penuh ke empat yang berjudul Fortius pada 23 Februari 2019 lalu.

Proses penggarapan album ini digarap secara mandiri, yakni di luar drum, proses rekaman, mixing dan mastering dilakukan sendiri  yang memakan waktu hingga 7 bulan lamanya.

Mereka menganalogikan Fortius sebagai kobar semangat untuk menjadi lebih tangguh. Energi itu tertuang ke dalam 11 lagu yang banyak bercerita mengenai semangat perjuangan hidup, kritik sosial, dan situasi politik di Indonesia.

Album terbaru Parau bertajuk 'Fortius' telah dirilis pada 23 Februari 2019.
Album terbaru Parau bertajuk 'Fortius' telah dirilis pada 23 Februari 2019. (Parau)

Album ini menggemakan metal hardcore dengan ciri khas Parau yang lebih berekplorasi dengan riff melodic, bernafaskan dengan pukulan-pukulan drum death metal. Kehadiran 2 punggawa baru pada posisi gitar dan drum, menjadikan album ini lebih “kaya” secara musikal dari album Parau terdahulu.

Dalam album Fortius juga terdapat kolaborasi dengan beberapa musisi lain, yaitu Gede Robi (Navicula) di lagu Pembunuh Paus dan Daniel Mardhany (Dead Squad) di lagu Fase Akhir Delusional.

Album Fortius bernaung dalam label Armstrecth Record – Bandung, di mana Parau sudah tergabung bersama label ini sejak album ke 2 Somatoform.

Selain merilis Fortius, Parau juga menggelar konser peluncuranya, tepat di hari yang sama Sabtu 23 Februari 2019 dengan menggandeng Paradise Island Clothing Association (PICA).

Konser itu bertempat di Pantai Matahari Terbit Sanur – Denpasar, yang juga tempat berlangsungnya event PICA Fest 2019.

Sebulan sebelum perilisan album Fortius, Parau telah terlebih dahulu merilis video musik single pertama berjudul “Menghujam Kelam“ yang disutradarai oleh EdwinSB pada tanggal 27 Januari 2019 lalu.

Lagu ini bercerita tentang sisi gelap yang dimiliki oleh manusia. Setiap manusia memiliki batas kesabaran, yang dikelola oleh fisik, emosi, dan pikiran.

Sisi gelap itu muncul dengan sendirinya saat manusia sudah tidak mampu lagi menanggung beban masalah dalam hidupnya. 

Video bisa disimak di laman https://youtu.be/xn0mj0GhBn0. (*)

Penulis: Putu Candra
Editor: Widyartha Suryawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved