Pariwisata di Nusa Penida Makin Menggeliat tapi Masyarakat Masih Membuang Sampah di Tegalan

Keberadaan pariwisata di Nusa Penida kini mulai menggeliat. Lonjakan pengunjung ke salah satu pulau di Kabupaten Klungkung ini mengalami peningkatan

Pariwisata di Nusa Penida Makin Menggeliat tapi Masyarakat Masih Membuang Sampah di Tegalan
Tribun Bali/I Wayan Sui Suadnyana
Perbekel Desa Sakti, I Ketut Partita saat hadir dalam peresmian villa Sunrise Penida Hill, Sabtu (30/3/2019) sore. 

Dijelaskan, dalam upaya penanganan sampah ini sebenarnya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klungkung telah memiliki Peraturan Daerah (Perda) Nomor 7 tahun 2014 tentang Pengelolaan Sampah.

Sampai saat ini, penerapan Perda tersebut di Desa Sakti masih dalam tahap sosialisasi. Dijelaskan Partita, beberapa sanksi telah diatur dalam perda tersebut, termasuk jika membuang sampah di tempat umum.

Sanksi yang diterapkan mulai dari kurungan hingga denda maksimal Rp 50 juta.

Pemkab Klungkung juga mendorong adanya Program Tempat Pengolahan Sampah Setempat (TOSS) di masing-masing desa demi menjawab persoalan sampah ini.

Baca: Edarkan Sabu hingga ke Nusa Penida, Dua Anggota Ormas Ditangkap

Baca: Janda Ngaku Perawan di Jembrana Tipu Harta Pria Ini Hingga Rp 1,4 M, Komang Ayu Divonis 3 Tahun

Guna menerapkan program TOSS ini, di Desa Sakti beberapa waktu lalu sempat kedatangan tamu dari Prancis yang nantinya akan melakukan pengelolaan sampah. "Nah itu nantinya langkah awalnya," kata dia.

Berdasarkan informasi yang diterimanya, investor dari Perancis itu akan mampu mengolah sampah hingga 30 ton per harinya.

Sampah tersebut dapat diolah dan produk akhirnya bisa menjadi pasir dan batako. "Tapi kami sampai hari ini masih menunggu realiasasi dari dia," jelasnya.

Baca: Minat Baca Rendah, Jumlah Pengunjung Perpustakaan Keliling Tak Meningkat Sejak Dua Tahun Lalu

Dirinya berharap pengelolaan sampah ini benar-benar terwujud. Harapan itu muncul karena selama ini masyarakat Desa Sakti dikelola secara manual dengan dibuang ke tegalan.

Pengelolaan sampah dengan cara seperti ini diakui sebagai bentuk yang kurang maksimal dalam penanganan sampah. "Kami sadari itu salah pengelolaannya," jelasnya. (*)

Penulis: I Wayan Sui Suadnyana
Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved