Pencemaran Udara Dapat Menurunkan Angka Harapan Hidup 1,2 Tahun, Begini Penjelasannya

Dalam laporan itu disebutkan, pencemaran udara menurunkan rata-rata angka harapan hidup orang Indonesia sekitar 1,2 tahun.

Pencemaran Udara Dapat Menurunkan Angka Harapan Hidup 1,2 Tahun, Begini Penjelasannya
KOMPAS/RIZA FATHONI
Aktivis yang menamakan diri Gerakan Inisiatif Bersihkan Udara Koalisi Semesta (Ibu Kota) menggelar aksi di Bundaran HI, Jakarta, Rabu (5/12/2018). Dalam rangkaian aksinya, mereka juga mengajukan notifikasi gugatan warga negara kepada tujuh tergugat, yaitu Presiden RI, Menteri LHK, Menteri Kesehatan, Menteri Dalam Negeri, Gubernur DKI Jakarta, Gubernur Jawa Barat, dan Gubernur Banten, sebagai bentuk kekecewaan kepada pemerintah yang dinilai lalai menangani polusi udara di Jakarta. 

TRIBUN-BALI.COM, JAKARTA — Laporan terbaru Air Quality Life Index oleh Energy Policy Institute at the University of Chicago memberi harapan bahwa angka harapan hidup orang Indonesia bisa ditingkatkan melalui perbaikan kualitas udara.

Dalam laporan itu disebutkan, pencemaran udara menurunkan rata-rata angka harapan hidup orang Indonesia sekitar 1,2 tahun.

Perbaikan kualitas udara tersebut bisa dicapai dengan melakukan berbagai perbaikan regulasi pengelolaan kualitas udara maupun penegakan hukum.

Ini bisa menjadi pertimbangan para pengambil kebijakan untuk menakar antara manfaat dan dampak pada lingkungan serta manusia maupun pertumbuhan ekonomi.

Baca: VIDEO! Kondisi Suku Togutil Terekam Kamera Berteriak di Atas Tebing, Begini Penampilannya

Baca: Idaman Banget! 3 Zodiak Ini Terkenal Tak Banyak Menuntut, Pisces Kebahagiaan Pasangan Nomor Satu

Baca: Polisi Tangkap Pria Penyebar Foto dan Video Tanpa Busana Seorang Karyawati di Medsos, Ini Motifnya

Laporan yang disusun Energy Policy Institute at the University of Chicago (EPIC) ini berjudul Indonesia’s Worsening Air Quality and its Impact on Life Expectancy (update March 2019).

Para peneliti membandingkan kualitas udara daerah-daerah di Indonesia dengan pedoman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terkait polusi partikulat halus (PM2,5).

“Indonesia sudah mengambil langkah penting untuk mengurangi polusi. Saat telah bergerak maju, perhitungkan semua biaya dan manfaat kebijakan sebelum menetapkan dan memastikan semua batasannya terpantau dan ditegakkan dengan hati-hati dalam menempuh jalan panjang menuju peningkatan kualitas udara,” kata Michael Greenstone, Milton Friedman Professor in Economics dari Universitas Chicago, merespons wawancara Kompas melalui surat elektronik, Sabtu (30/3/2019).

Friedman menciptakan AQLI bersama rekan-rekannya di EPIC sejak November 2018. Indeks ini dibangun bukan saja untuk menunjukkan kerusakan yang disebabkan oleh polusi, namun juga menginformasikan keuntungan yang diperoleh dari kebijakan untuk mengatasi permasalahan tersebut.

Ini bisa menjawab tantangan negara-negara yang menghadapi pertumbuhan ekonomi sekaligus dihadapkan pada perlindungan lingkungan dan kesehatan publik.

AQLI menunjukkan bahwa polusi partikulat di Indonesia mulai muncul menjadi masalah sejak tahun 1998.

Halaman
1234
Editor: DionDBPutra
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved