2,5 Tahun Bali “Remnya Blong”, Raperda Desa Adat Diketok Palu Usai Dibahas 4 Bulan      

Raperda tentang desa adat telah melalui proses pembahasan maraton selama empat bulan hingga dapat diselesaikan dan diketok palu oleh DPRD Bali

2,5 Tahun Bali “Remnya Blong”, Raperda Desa Adat Diketok Palu Usai Dibahas 4 Bulan      
Tribun Bali/Wemasatya
Suasana rapat paripurna laporan Dewan terhadap Raperda tentang desa adat di Ruang Sidang Utama Kantor DPRD Bali, Selasa (2/4/2019). 

Selain itu, karena desa adat sebagai subjek hukum, maka desa adat juga berhak mengatur dirinya sendiri.

Parta menyampaikan desa adat membutuhkan biaya untuk merawat budaya, tradisi, dan adat istiadat Bali.

Beban biaya inilah yang sepantasnya ditanggung bersama tanpa membedakan antara pendatang atau bukan, karena biaya itu memang harus bersumber secara kolektif untuk menjaga desa adat.

“Dalam kondisi itulah desa adat dapat mengenakan biaya terhadap setiap orang yang tinggal di wilayahnya masing-masing. Teknisnya akan diatur dalam pararem desa adat,” imbuhnya.

Raperda desa adat diharapkan dapat memberi pengakuan, penguatan, pemberdayaan, dan kemandirian desa adat yang dituangkan dalam pasal-pasal strategis, responsif, progresif, dan antisipatif.

“Karena desa adat menjadi ‘rahim’ yang melahirkan keseluruhan budaya, tradisi, dan adat istiadat Bali yang adiluhung. Oleh karena itu desa adat menjadi tempat yang strategis sehingga perlu diatur dalam Perda,” tuturnya.

Selanjutnya, maksud dari Perda bersifat responsif adalah agar Perda mampu memberi solusi terhadap permasalahan-permasalahan yang terjadi, karena terlalu banyak masalah di desa adat yang tidak bisa diselesaikan akibat kewenangan yang tumpang tindih.

Perda bersifat progresif. Maksudnya Perda melewati batas-batas, dan akan mengatur hal-hal yang akan terjadi dikemudian hari dalam menghadapi tantangan zaman yang akan masuk ke Bali.

Dan Perda bersifat antisipatif, artinya Bali memperoleh berbagai tekanan baik itu internal maupun eksternal.

Oleh karena itu Perda bersifat antisipatif terhadap hal-hal yang mungkin akan terjadi sehingga bisa diatur lebih awal agar desa adat menjadi tetap kuat nantinya.

Halaman
1234
Penulis: Wema Satya Dinata
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved