Melalui Awig-awig, Desa Adat Gulinten Karangasem Dorong Warganya Wajib Belajar Sembilan Tahun

Keinginan warga Desa Adat Gulinten untuk sekolahkan anaknya minimal tamat SMP dijadikan awig-awig dan sampai saat ini masih diterapkan

Melalui Awig-awig, Desa Adat Gulinten Karangasem Dorong Warganya Wajib Belajar Sembilan Tahun
Tribun Bali/Saiful Rohim
Suasana belajar di SDN 6 Bunutan, Kecamatan Abang, Karangasem, Selasa (2/4/2019). 

TRIBUN-BALI.COM, AMLAPURA - Kehidupan di perbukitan dengan kondisi serba kekurangan tak menjadi hambatan anak-anak di Desa Gulinten, Kecamatan Abang, Karangasem, untuk bersekolah.

Semangat siswa untuk bersekolah tinggi, dan rela jalan kaki hingga puluhan kilo setiap hari.

Jarak dari Amlapura ke Desa Gulinten mencapai 30 kilometer dengan kondisi jalan menanjak dan berjurang. Perekonomian warga menangah ke bawah.

Sebagian besar bekerja jadi penggarap kebun serta peternak.

Keinginan orangtua siswa menyekolahkan anaknya juga tinggi. Sekitar 263 kepala keluarga (KK) warga bertekad untuk menyekolahkan anaknya.

Orangtua siswa tak ingin anaknya ikut jejak orangtuanya yang hidup kesusahan.

Bandesa Adat Gulinten, I Ketut Sujana mengatakan, semangat orangtua dan anak di Gulinten untuk bersekolah cukup tinggi.

Keinginan warga sekolahkan anaknya minimal tamat  SMP dijadikan awig-awig dan sampai saat ini masih diterapkan.

"Karena keinginan warga tinggi, akhirnya dibuatkan awig-awig (peraturan) pendidikan minimal sembilan tahun untuk anak di Desa Gulinten. Peraturan ini juga untuk mensukseskan program pemerintah pusat wajib belajar minimal  sembilan tahun," kata Sujana, Selasa (2/4/2019).

Dalam awig-awig tersebut dijelaskan, krama yang memiliki anak wajib menyekolahkan anaknya minimal tamat SMP.

Halaman
12
Penulis: Saiful Rohim
Editor: Widyartha Suryawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved