Mengapa Lebih Banyak Perempuan Meninggal karena Serangan Jantung daripada Laki-laki? Ini Sebabnya

Syukurnya, pimpinannya menyadari simtom itu - dada dan rahang sakit dan tangan kirinya mati rasa - lalu mengantarnya ke rumah sakit terdekat.

Mengapa Lebih Banyak Perempuan Meninggal karena Serangan Jantung daripada Laki-laki? Ini Sebabnya
Net
Ilustrasi 

TRIBUN-BALI.COM - Lilly Rocha berusia 37 tahun saat 2008. Ketika itu ia mulai mengalami simtom yang aneh.

Apabila ada seseorang yang bertanya padanya, ia tahu jawabannya, hanya saja tidak bisa mengucapkannya.

Rasa geli pada payudara bagian kiri menjadi lebih sakit. Awalnya ia mengira terkena kanker payudara.

Tapi dokter yang menanganinya meyakinkan bahwa ia hanyalah stress gara-gara tekanan dalam pekerjaan.

Time.com merilis simtom yang dialami Rocha semakin parah dan dokter mulai mengabaikannya. Hingga tiga bulan berikutnya, di tempat kerja, penyakitnya semakin parah.

Syukurnya, pimpinannya menyadari simtom itu - dada dan rahang sakit dan tangan kirinya mati rasa - lalu mengantarnya ke rumah sakit terdekat.

Hanya saja, di ruang tunggu rumah sakit, dia terkena serangan jantung.

“Aku tidak pernah kelebihan berat badan. Selalu olahraga dan mengonsumsi makanan yang sehat. Aku juga tidak tahu sama sekali bagaimana tanda-tanda dan simtom serangan jantung. Para perempuan harus tahu bahwa 80% penyakit jantung bisa dicegah dan mereka perlu mengedukasi dirinya,” kata Rocha.

Cardiovascular disease (CVD) adalah penyebab utama kematian pada perempuan dan laki-laki.

Data statistik dari American Heart Association (AHA) menunjukkan setiap menitnya, ada satu perempuan yang meninggal karena sakit jantung di Amerika.

Halaman
12
Penulis: Ni Ketut Sudiani
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved