Hunian Bedah Rumahnya Masih Hancur, Nengah Surata Sekeluarga Terpaksa Numpang Tidur

Hampir 8 bulan sudah Nengah Surata bersama istri dan anaknya harus mengungsi di rumah ibunya karena rumahnya hancur akibat gempa

Hunian Bedah Rumahnya Masih Hancur, Nengah Surata Sekeluarga Terpaksa Numpang Tidur
Tribun Bali/Fredey Mercury
Nengah Surata bersama istri dan kedua anaknya, Minggu (7/4/2019). Disebelah tempatnya bediri merupakan hunian bedah rumah yang kini tinggal lantainya saja. 

TRIBUN-BALI.COM, BANGLI – Hampir 8 bulan sudah Nengah Surata bersama istri dan anaknya harus mengungsi di rumah ibunya. Dia pasrah karena rumahnya hancur karena bencana gempa bumi di Lombok pada  Agustus 2018 silam.

Hingga saat ini, ia bahkan belum mampu untuk membangun rumah hunian baru.

Ditemui Minggu (7/4/2019), Nengah Surata menceritakan awalnya rumah yang ia tempati hanya berdinding anyaman bambu.

Pada tahun 2016, ia mendapatkan bantuan bedah rumah pemerintah Provinsi Bali senilai Rp 30 juta.

Namun baru berdiri selama dua tahun, terjadilah musibah gempa bumi yang menerjang Lombok pada 5 Agustus tahun 2018, dan menyebabkan bangunan seluas 6,5 x 5,5 itu seketika rata dengan tanah.

“Waktu itu baru tiga orang yang tinggal di sini. Hanya saja saat musibah terjadi, saya bersama istri dan anak berada di rumah ibu. Sebab itulah kami sekeluarga tidak menjadi korban,” ungkap pria asal Dusun Bubung, Desa Suter, Kintamani ini.

Surata mengatakan, pasca rumahnya luluh lantak diterjang gempa, ia langsung melapor pada pihak Desa Suter.

Kondisi rumah Nengah Surata saat hancur akibat gempa tahun 2018 lalu.
Kondisi rumah Nengah Surata saat hancur akibat gempa tahun 2018 lalu. (Istimewa)

Oleh Perbekel, laporan tersebut diteruskan dengan mengajukan permohonan bedah rumah kembali ke pihak provinsi melalui BPBD Bangli.

Kini, pembuat wadah jeruk dengan penghasilan tidak tetap itu hanya bisa pasrah numpang tidur di rumah ibunya bernama Wayan Kari (70).

Dirinya berharap agar bisa kembali mendapatkan bantuan bedah rumah dari pemerintah.

Halaman
12
Penulis: Muhammad Fredey Mercury
Editor: Widyartha Suryawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved