Penyuluh Bahasa Bali Sampai Patungan untuk Lestarikan Naskah Lontar

Kurangnnya anggaran untuk pembelian sarana konservasi seperti minyak sereh dan alkohol membuat para penyuluh ini harus bergotong royong atau urunan

Penyuluh Bahasa Bali Sampai Patungan untuk Lestarikan Naskah Lontar
Istimewa/Penyuluh Bahasa Bali
Tenaga Penyuluh Bahasa Bali melakukan perawatan lontar di Griya Taman Belayu, Kecamatan Marga, Tabanan, Jumat (5/4/2019). 

TRIBUN-BALI.COM, TABANAN - Belasan tenaga penyuluh Bahasa Bali tampak membersihkan lontar di Griya Taman Belayu, Kecamatan Marga, Tabanan, Jumat (5/4/2019).

Lembar per lembar mereka bersihkan dengan minyak sereh yang sudah dicampur alkohol. Setelah bersih, setiap cakep lontar kemudian dikembalikan ke tempat semula.

Konservasi naskah lontar ini sudah dilakukan penyuluh Bahasa Bali di seluruh Bali sejak dibentuk pada 2016 lalu. Desa demi desa pun mereka jajaki untuk melakukan pendataan lontar kemudian dilakukan konservasi.

Banyak hal yang kerap dialami oleh penyuluh Bahasa Bali ini. Beberapa pemilik lontar langsung berkenan memberikan lontarnya untuk dilakukan pendataan. Namun, beberapa juga memilih menolak karena dianggap benda sakral.

Selain itu, kurangnnya anggaran untuk pembelian sarana konservasi seperti minyak sereh dan alkohol membuat para penyuluh ini harus bergotong royong atau urunan untuk membelinya.

Tenaga Penyuluh Bahasa Bali melakukan perawatan lontar di Griya Taman Belayu, Kecamatan Marga, Tabanan, Jumat (5/4/2019).
Tenaga Penyuluh Bahasa Bali melakukan perawatan lontar di Griya Taman Belayu, Kecamatan Marga, Tabanan, Jumat (5/4/2019). (Istimewa/Penyuluh Bahasa Bali)

Urunan dilakukan hanya untuk tetap eksis dan melestarikan naskah lontar yang disakralkan tersebut.

Di Griya Taman Belayu, berbagai naskah lontar yang dikonservasi mulai astrologi (wariga), pengobatan tradisional (usada), prosa, kekawin, kidung, sejarah, cerita-cerita rakyat dan lain-lainnya.

Lontar-lontar yang sudah dibersihkan dengan minyak sereh kemudian dijemur beberapa jam barulah dirapikan kembali.

“Memang ada anggaran untuk pembelian sarananya, tapi masih kurang sehingga kami berniat untuk urunan membelinya, toh juga ini untuk melestarikan Bali,” ucap Koordinator Penyuluh Bahasa Bali Kabupaten Tabanan, I Gede Putu Adi Saka Wibawa, Senin (8/4/2019).

Proses perawatan lontar memang tidak sulit, namun membutuhkan biaya yang lumayan besar.

Halaman
12
Penulis: I Made Prasetia Aryawan
Editor: Widyartha Suryawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved