71 Sekolah di Tabanan Kategori Rusak, Tahun Ini Tak Ada Anggaran Perbaikan dari APBD Tabanan

Dari 322 sekolah yang ada di Tabanan, 71 sekolah diantaranya masuk kategori rusak sedang hingga berat dan perlu dilakukan perbaikan

71 Sekolah di Tabanan Kategori Rusak, Tahun Ini Tak Ada Anggaran Perbaikan dari APBD Tabanan
Tribun Bali/Made Prasetia Aryawan
Salah satu kondisi sekolah yang tergolong rusak dan perlu perbaikan di SDN 2 Bongan, Tabanan, belum lama ini. 

TRIBUN-BALI.COM, TABANAN – Dari 322 sekolah yang ada di Tabanan, 71 sekolah diantaranya masuk kategori rusak sedang hingga berat dan perlu dilakukan perbaikan.

Dinas Pendidikan Tabanan saat ini sudah mengusulkan bantuan perbaikan gedung sekolah tersebut ke pemerintah provinsi lewat Bantuan Keuangan Khusus (BKK) Provinsi.

Selain menunggu bantuan dari provinsi, Tabanan juga saat ini mengandalkan anggaran dari Pusat berbentuk Dana Alokasi Khusus (DAK) yang sebelumnya harus dilaporkan melalui Data Pokok Pendidikan (Dapodik).

Menurut data yang berhasil diperoleh, jumlah sekolah rusak tersebar di sembilan kecamatan di Tabanan, kecuali Selemadeg.

Rinciannya, Kecamatan Pupuan terdapat jumlah paling banyak yakni 24 sekolah, kemudian disusul dengan Kecamatan Selemadeg Barat 13 sekolah, 12 sekolah di Kecamatan Penebel, 6 di wilayah Selemadeg Timur, di Kediri ada 5 sekolah, masing-masing empat sekolah di Kecamatan Tabanan dan Baturiti, 2 sekolah di Kerambitan dan terdapat 1 sekolah di Kecamatan Marga.

Kategori rusak sedang dan berat salah satu contohnya seperti krusakan pada plafon (jebol).

“Jadi ada tiga kategori untuk sekolah yang dikatakan rusak, yakni sekolah rusak ringan, sedang, dan berat,” ujar Kabid Sekolah Dasar (SD) Dinas Pendidikan Tabanan, I Made Sukanitera saat dijumpai, Selasa (9/4/2019).

Salah satu bangunan sekolah yang rusak di Tabanan.
Salah satu bangunan sekolah yang rusak di Tabanan. (Tribun Bali/Made Prasetia Aryawan)

Dia menjelaskan, anggaran perbaikannya bisa melalui berbagai sumber seperti APBD Tabanan, BKK Provinsi Bali, dan DAK dari Pusat.

“Nah permasalahannya saat ini karena masih ada beberapa sekolah yang kurang paham dan enggan melaporkan kondisi sekolahnya entah itu rusak ringan, sedang maupun berat ke Dapodik. Padahal jika sudah dilaporkan di Dapodik tersebut nantinya akan mendapat bantuan dari pusat melalui DAK,” jelasnya.     

Kemudian, kata dia, masih ada juga sekolah yang tidak mau dianggap jelek karena sekolahnya rusak sehingga memilih untuk tidak melaporkan datanya ke Dapodik.

Halaman
12
Penulis: I Made Prasetia Aryawan
Editor: Widyartha Suryawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved