Kisah Penulis Geguritan dari Bali yang Tak Diperhatikan, Nyoman Suprapta : Saya Mau Umat Tercerahkan

Tak banyak orang yang mau membaca geguritan (nyanyian suci yang dibangun dari pupuh) pada masa ini.

Kisah Penulis Geguritan dari Bali yang Tak Diperhatikan, Nyoman Suprapta : Saya Mau Umat Tercerahkan
Tribun Bali/I Nyoman Mahayasa
PENULIS GEGURITAN - Penulis atau pengarang syair geguritan Nyoman Suprapta saat ditemui di kediamannya di Denpasar, Selasa (9/4). Suprapta sudah membuat 219 buku geguritan. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Tak banyak orang yang mau membaca geguritan (nyanyian suci yang dibangun dari pupuh) pada masa ini.

Bahkan geguritan kini kebanyakan digandrungi generasi tua dan hanya sedikit generasi muda yang menyukainya.

Walaupun demikian, I Nyoman Suprapta, lelaki kelahiran 11 November 1962 masih setia menulis geguritan.

Sejak Januari 2000 hingga kini Suprapta sudah menulis 219 geguritan.

“Setiap bulan saya upayakan melahirkan satu buku geguritan. Itu saya mulai sejak Januari 2000,” kata Suprapta yang ditemui di kediamannya di Jalan Gatot Subroto 117F, Tonja, Denpasar, Selasa (9/4) sore.

Bahkan tidak itu saja, kini ia sedang menyiapkan karya yang baru. 

Rencananya 10 Oktober 2020 ia akan menerbitkan geguritan yang ditulis sejak Januari 2000 hingga Oktober 2020.

Karya ini dipersembahkan untuk memperingati HUT ke-75 Kemerdekaan Indonesia.

“Walaupun demikian, sebenarnya ancar-ancar saya akan buat karya yang bisa diterbitkan sampai tahun 2045. Satu karya mewakili satu bulan. Kita hidup kan tidak tahu kapan meninggal, kalau misalnya saya meninggal sebelum 2045, berarti ada anak cucu yang akan menerbitkan itu,” kata Suprapta.

Kini ia mengaku telah mempersiapkan tulisan yang bisa diterbitkan hingga tahun 2045. Semua bahan sudah ada dan tinggal eksekusi.  

Halaman
1234
Penulis: Putu Supartika
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved