Penumpang Domestik Bandara Ngurah Rai Turun 8,5 Persen, Kadispar Sebut Dipengaruhi Harga Tiket

Bulan Januari sampai Maret 2019 Bandara Ngurah Rai mengalami penurunan penumpang rute domestik sebanyak 8,5 persen

Penumpang Domestik Bandara Ngurah Rai Turun 8,5 Persen, Kadispar Sebut Dipengaruhi Harga Tiket
Tribun Bali/Zaenal Nur Arifin
Suasana terminal keberangkatan domestik dan internasional di Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali, Jumat (8/2/2019). 

Laporan Wartawan Tribun Bali, Rino Gale

TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA - Menurut data statistik Bandara I Gusti Ngurah Rai yang dirilis Selasa (10/4/2019) kemarin, bulan Januari sampai Maret 2019 terdapat penurunan penumpang rute domestik sebanyak 197.524 penumpang atau turun 8,5 persen.

General Manager PT Angkasa Pura I, Kantor Cabang Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Haruman Sulaksono memaparkan, ada penurunan penumpang dari kedatangan domestik.

Dimana, dalam catatan triwulan pertama 2019 ini, penumpang rute domestik hanya mencapai 2.327.725 penumpang, masing-masing dengan rincian 1.155.996 penumpang dari rute kedatangan, 1.109.916 penumpang yang berangkat meninggalkan Pulau Bali, serta 61.813 penumpang transfer.

Berbeda dengan pencatatan pada periode 2018 lalu, dimana tercatat jumlah penumpang rute domestik sebanyak 2.525.249 dengan rincian masing-masing 1.278.476 penumpang datang ke Pulau Dewata, 1.237.138 penumpang dari rute keberangkatan, serta 9.635 penumpang transfer.

Baca: Gubernur Koster Kritik Manajemen RS Bali Mandara, Akan Tes Ulang Sejumlah Pegawai

Baca: Kini Masyarakat Bisa Mendapatkan Sertifikat Vaksinasi Internasional di RS Bhayangkara Denpasar

"Jika dilakukan komparasi antara kedua periode, dalam periode triwulan pertama tahun 2019 ini, terdapat penurunan penumpang rute domestik sebesar 197.524 penumpang, atau turun 8,5 persen dibanding dengan periode yang sama di tahun 2018," rincinya.

Kepala Dinas Pariwisata Badung, I Made Badra mengatakan, berdasarkan data tersebut kemungkinan besar penurunan penumpang rute domestik disebabkan harga tiket mahal karena daya saing transportasi udara di Bali memang tinggi.

Di lain sisi, ada kemungkinan penumpang membatalkan jadwal berlibur dan menggunakan alternatif lain melalui darat.

Baca: Kisah Aneh & Misteri Rumah Suzanna, Istri Kedua Clift Sangra: Didatangi Bunda Pakai Baju Hijau Jawa

Baca: Setelah Menunggu 3 Bulan, Esok 238 CPNS Kota Denpasar Terima SK CPNS

"Pasti ada hubungannya terkait harga tiket mahal. Memang juga faktor daya saing untuk transportasi udara di Bali itu justru tinggi. Penumpang mungkin ada program penundaan untuk berlibur, atau lewat alternatif lain yakni melalui darat. Harga tiket mahal ini harus dievaluasi ulang. Ya evaluasi harga tiket dan biaya operasional lainnya. Setidaknya masih ada peluang lah agar tidak rugi dan juga daya saing," ujarnya saat dihubungi Tribun Bali, Rabu (10/4/2019).

Badra mengungkapkan, jika dibandingkan dengan tahun 2018 lalu, 8,5 persen memang menurun.

Sebelum harga tiket mahal, tingkat kunjungan wisatawan mancanegara naik kisaran 60 persen.

"Harga tiket mahal ini dimulai sejak enam bulan lalu. Kami berharap, stakeholder yang mengambil kebijakan terhadap harga tiket harus dibicarakan lagi. Sebab Bali ini kan tempat pariwisata. Kalau harga kembali stabil, maka pariwisata kita bisa meningkat. Kalau naik lebih dari 7,5 persen kan bagus. Ya segera dipulihkan lah harganya," harapnya. (*)

Penulis: Rino Gale
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved