Transisi Energi dari PLTU Batu Bara Jadi PLTS Bisa Turunkan Tarif Dasar Listrik hingga 45 Persen

Biaya pembangkitan energi terbarukan sudah dapat menyaingi biaya pembangkitan batu bara saat ini

Transisi Energi dari PLTU Batu Bara Jadi PLTS Bisa Turunkan Tarif Dasar Listrik hingga 45 Persen
Tribun Bali/Rino Gale
Jumat (12/4/2019), pemerintah bersama Universitas Udayana dan Greenpeace berdiskusi Peta Jalan Pengembangan Energi Surya di Bali, di Paragon Resort Hotel, Jalan Raya Kampus Unud, Jimbaran. Salah satu hal yang harus dilakukan untuk mewujudkan hal tersebut adalah mengembangkan penggunaan energi bersih dan terbarukan dalam memenuhi kebutuhan listrik untuk menggantikan energi fosil, seperti batubara, yang merusak dan mencemari lingkungan. 

Laporan Wartawan Tribun Bali, Rino Gale

TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA - Pergantian energi Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batu bara ke Pembangkit Tenaga Listrik Surya (PLTS) bisa mengurangi tarif dasar listrik (TDL) sebanyak 45 persen.

Hal ini dipaparkan oleh Kepala Greenpeace Indonesia, Leonard Simanjuntak.

Leonard mengatakan, biaya pembangkitan energi terbarukan sudah dapat menyaingi biaya pembangkitan batu bara saat ini, bahkan dengan mengabaikan subsidi untuk energi batu bara.

Dengan melakukan perhitungan biaya amortisasi per kWh energi yang dihasilkan oleh energi surya atap selama lebih dari 20 tahun, maka harga listrik yang dihasilkan adalah Rp 800/kWh.

"Harga ini 45 persen lebih murah dibandingkan TDL yang diberlakukan PLN saat in,i yang kemungkinan akan mengalami kenaikan dalam waktu dekat," paparnya.

Mengingat Bali telah dinobatkan menjadi center for the development of clean energy di Indonesia oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada tahun 2015.

Baca: Gubernur Koster Akan Manfaatkan Hasil Riset Unud Untuk Membangun Bali

Baca: Dana Terbatas, Pengprov MI Bali Pangkas Jumlah Atlet yang Dikirim Liganas Muaythai X

Bali akan dijadikan proyek percontohan bagi provinsi lainnya sebagai pusat penelitian energi terbarukan dan diharapkan dapat menjadi provinsi pertama yang memproduksi energi bersih rendah emisi karbon.

Maka, Jumat (12/4/2019), pihak pemerintah bersama Universitas Udayana dan Greenpeace berdiskusi terkait hal itu dengan tema Peta Jalan Pengembangan Energi Surya di Bali, di Paragon Resort Hotel, Jalan Raya Kampus Unud, Jimbaran.

Salah satu hal yang harus dilakukan untuk mewujudkan hal tersebut adalah mengembangkan penggunaan energi bersih dan terbarukan dalam memenuhi kebutuhan listrik untuk menggantikan energi fosil, seperti batu bara, yang merusak dan mencemari lingkungan.

Halaman
12
Penulis: Rino Gale
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved