Kisah Luh Ariani Tinggal di Rumah Batu Kaki Gunung Batur, Hanya Mandi Ketika Hujan

Rumah berukuran sekitar lebar 3 meter dan tinggi 1 meter ini terletak di pinggir Jalan Pendakian Gunung Batur, Kintamani, Bali

Kisah Luh Ariani Tinggal di Rumah Batu Kaki Gunung Batur, Hanya Mandi Ketika Hujan
Tribun Bali/Noviana Windri
Rumah batu di kaki Gunung Batur di Jalan Pendakian Gunung Batur, Kintamani, Bangli, Bali, Sabtu (13/4/2019). 

Laporan Wartawan Tribun Bali, Noviana Windri Rahmawati

TRIBUN-BALI.COM, BANGLI - Ada tiga rumah dari bebatuan yang disusun rapi tanpa semen di kaki Gunung Batur.

Rumah berukuran sekitar lebar 3 meter dan tinggi 1 meter ini terletak di pinggir Jalan Pendakian Gunung Batur, Kintamani, Bali.

Rumah batu hanya beratap asbes, triplek dan terpal, berlantai tanah.

Luh Ariani, wanita asal Tabanan yang tak ingat tanggal lahirnya adalah salah satu penghuni rumah batu di kaki Gunung Batur.

Wanita penderita polio sejak kelas 6 SD ini tinggal seorang diri di rumah batunya.

Tak terlihat ada kasur atau perabotan layaknya di sebuah rumah pada umumnya.

Luh Ariani, wanita asal Tabanan yang tak ingat tanggal lahirnya adalah salah satu penghuni rumah batu di kaki Gunung Batur.
Luh Ariani, wanita asal Tabanan yang tak ingat tanggal lahirnya adalah salah satu penghuni rumah batu di kaki Gunung Batur. (Tribun Bali/Noviana Windri)

Pintu rumah hanya terbuat dari triplek bekas dengan panjang dan lebar 1 meter.

Rumah batu Luh Ariani memiliki 2 ruang yang dibatasi oleh kayu dan terpal.

Ruang pertama adalah ruang di sisi kanan sebagai dapur.

Baca: 5 Sepeda Motor Raib dalam Sepekan di Kusamba Klungkung, Warga Resah Maraknya Kasus Curanmor

Baca: Riyasa Sebut Perlu Ada Pendampingan, Simulasi KPU Badung Warga Kesulitan Lipat Surat Suara

Halaman
12
Penulis: Noviana Windri
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved