Suka Duka Dokter Tentara Saat Konflik Trikora Rebut Irian, Naik Kapal Selam Diburu Pesawat Belanda

Begitulah karir Dr. S. Sabaruddin dimulai ketika memilih menjadi dokter tentara ketika kecamuk konflik antara Indonesia dengan Belanda soal Irian Jaya

Suka Duka Dokter Tentara Saat Konflik Trikora Rebut Irian, Naik Kapal Selam Diburu Pesawat Belanda
Istimewa
Rebut Irian Barat 

TRIBUN-BALI.COM, – Memilih karir sebagai tentara profesional adalah tantangan sekaligus bukan jalan yang mudah bagi siapapun.

Terlebih situasi keamanan negara saat itu masih berkonflik dengan negara lain.  

Begitulah karir Dr. S. Sabaruddin dimulai ketika memilih menjadi dokter tentara ketika kecamuk konflik antara Indonesia dengan Belanda soal Irian Jaya (Papua) sedang bergelora. 

Dr. S. Sabaruddin menuliskan pengalamannya yang menarik dan terkadang lucu ketika ia memilih menjadi dokter tentara lalu ditugaskan dalam misi trikora, merebut Irian Barat dari tangan Belanda.

Pada Juni 1961 saya lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Waktu itu ada tiga pilihan bagi dokter muda: belajar lagi untuk mengambil spesialisasi, menjadi dokter wajib militer untuk bekerja di daerah, atau menjadi dokter sipil, yang juga bekerja di daerah.

Pikir punya pikir pilihan saya jatuh pada dokter wajib militer (wamil).

Dasar wamil!

Ada 115 orang yang terkena wajib militer Angkatan Darat angkatan kelima itu. Mereka berasal dari seluruh perguruan tinggi di Indonesia. Ada yang dokter, apoteker atau dokter hewan.

Kami yang terkena wajib militer menerima pendidikan basis-kemiliteran selama enam bulan di Pusat Kesehatan Angkatan Darat di Kramat Jati, Jakarta.

Halaman
1234
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Grid.ID
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved