Wiki Bali

TRIBUN WIKI - Kisah Perjuangan I Gusti Ngurah Rai, Namanya Dijadikan Nama Jalan hingga Bandara

Untuk mengenang jasanya, nama I Gusti Ngurah Rai dijadikan nama bandara dan pangkalan TNI Angkatan Udara

TRIBUN WIKI - Kisah Perjuangan I Gusti Ngurah Rai, Namanya Dijadikan Nama Jalan hingga Bandara
Tribun Bali
I Gusti Ngurah Rai 

Laporan Wartawan Tribun Bali, Zaenal Nur Arifin

TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA - Ketika melintas di ujung timur Bandara I Gusti Ngurah Rai setelah keluar pintu tol Bali Mandara, akan terlihat patung menjulang tinggi yang mengingatkan kita pada sikap patriot pahlawan I Gusti Ngurah Rai.

Bahkan untuk mengenang jasanya, nama I Gusti Ngurah Rai dijadikan nama bandara dan pangkalan TNI Angkatan Udara.

Dikutip dari berbagai sumber, khususnya buku-buku di Perpustakaan Lanud I Gusti Ngurah Rai, Sabtu (13/4/2019), berikut sekilas perjuangan pahlawan I Gusti Ngurah Rai hingga namanya diabadikan sebagai nama lanud, bandara dan jalan.

I Gusti Ngurah Rai lahir tahun 1917, berasal dari desa Carangsari, Kabupaten Badung.

Suasana di dalam bundaran tugu I Gusti Ngurah Rai atau zona I proyek underpass, Kamis (17/5/2018).
Suasana di dalam bundaran tugu I Gusti Ngurah Rai atau zona I proyek underpass, Kamis (17/5/2018). (Tribun Bali/Widyartha Suryawan)

I Gusti Ngurah Rai adalah tokoh yang dikenal sebagai pahlawan gagah berani dari Pulau Dewata dalam “Puputan Margarana”.

I Gusti Ngurah Rai menamatkan Sekolah Dasar Belanda (HIS) di Denpasar, kemudian melanjutkan ke MULO di Malang Jawa Timur.

Selanjutnya pada tahun 1938 mengikuti pendidikan Offisier Corp Prayoda yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kerajaan Belanda di Gianyar, tanggal 30 Oktober 1945 I Gusti Ngurah Rai diangkat sebagai pemimpin TKR dengan pangkat mayor dan dinaikkan pangkatnya menjadi letkol ketika pelantikannya di Yogyakarta.

Setelah itu pada tanggal 19 Desember 1945 I Gusti Ngurah Rai bersama dengan Gusti Bagus Putu Wisnu, Gusti Ngurah Bagus Sugianyar, Wayan Ledang dan Tjokorda Ngurah berangkat ke Yogyakarta untuk koordinasi dengan pemerintah pusat dalam upaya memperkuat keamanan di Pulau Bali, dan kembali pada tanggal 4 April 1946, selanjutnya bermarkas di Munduk Malang, Tabanan, hingga akhirnya pada tanggal 20 November 1946 beliau gugur bersama pejuang lainnya dalam Puputan Margarana.

Baca: Populasi Membeludak di Peternak Gianyar, Harga Daging Babi di Pasaran Merosot

Baca: Best Premier Agung Ubud Gelar Donor Darah, Target 50 Kantong Darah

Ketika itu tanggal 20 November 1946 I Gusti Ngurah Rai sebagai Komandan pasukan Ciung Wanara yang berada di Desa Marga dikepung serdadu NICA di bawah pimpinan JBT Konig, hingga akhirnya terjadi perang habis-habisan atau puputan sampai menewaskan seluruh pasukan Ciung Wanara dan sebagian pasukan NICA.

Halaman
1234
Penulis: Zaenal Nur Arifin
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved