Smart Woman

Pimpin LBH Women Crisis Centre, Ni Ketut Madani Tirtasari Dorong Perempuan Bersuara dan Berdaya

Sering mendampingi perempuan Bali korban kekerasan, kian menguatkan tekad Ni Ketut Madani Tirtasari untuk mendorong perempuan agar berani bersuara

Pimpin LBH Women Crisis Centre, Ni Ketut Madani Tirtasari Dorong Perempuan Bersuara dan Berdaya
Dok Pribadi
Ni Ketut Madani Tirtasari SH 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Bertahun-tahun mendampingi dan membantu perempuan-perempuan Bali korban kekerasan, kian menguatkan tekad Ni Ketut Madani Tirtasari SH untuk mendorong perempuan agar berani bersuara.

Pekerjaan yang dijalaninya selama ini tentu tidak lepas dari risiko yang berat. Namun dukungan orangtua dan keluarga membuatnya kuat dan bertahan hingga saat ini. 

“Semangat terbesar adalah bisa mendampingi dan membantu korban,  khususnya perempuan yang menjadi  korban KDRT sehingga  berani bersuara dan berdaya. Tidak selalu tergantung pada orang lain sehingga kekerasan bisa dicegah,” tutur perempuan yang kini menjadi direktur LBH Women Crisis Centre (WCC). 

Selama menjalani tugasnya, ia tidak pernah membedakan apakah permasalahan sebuah kasus berat ataupun ringan. Baginya setiap persoalan memiliki karakter dan cara penanganan dan pendampingan yang berbeda-beda. 

“Tapi saya lebih melihat kenyamanan korban yang saya dampingi.  Bagi saya kasus terasa berat apabila korban tidak nyaman dengan apa yang saya lakukan,” tegasnya.

Ia menilai, persoalan yang dialami perempuan memang jarang diekspos. Apabila permasalahan sudah pada titik buntu dan semakin rumit, barulah para perempuan berani melapor.

“Begitu yang kami lihat di lapangan,” imbuhnya.

Adapun alasan mereka tidak berani bersuara ataupun menceritakannya kepada orang lain adalah karena mereka tidak ingin  mengumbar ‘aib’ sendiri. Karenanya mereka pun enggan untuk menyuarakannya.

“Tapi sekarang sudah mulai ada yang mau berbicara, walau belum semuanya. Setidaknya berani bicara dulu, kami juga tidak ingin mereka gegabah,” katanya.

Diakuinya, sebagian besar korban yang didampinginya memang adalah perempuan-perempuan yang belum berdaya. Mereka mengalami penelantaran, kekerasan fisik maupun psikis.

Halaman
12
Penulis: Ni Ketut Sudiani
Editor: Widyartha Suryawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved