Liputyan Khusus

Gagah dari Luar 'Jerawatan' di Dalam, Pasar Badung Ada Wacana untuk Dipoles Lebih Cantik

Ia terbayang-bayang masalah yang menimpa beberapa temannya, yang jatuh karena salah masuk eskalator.

Gagah dari Luar 'Jerawatan' di Dalam, Pasar Badung Ada Wacana untuk Dipoles Lebih Cantik
Tribun Bali/Rizal Fanany
Suasana Pasar Badung di Jalan Gajahmada, Denpasar, pada Sabtu (9/3/2019). Sejumlah pengunjung mengeluhkan belum adanya taman di luar yang membuat suasana panas. 

Hal ini dianggap menyulitkan pedagang apabila ada ceceran darah dan daging yang tumpah.

“Kami juga mengeluhkan tempat jualan dagingnya. Masih beton. Itu tentu membuat kesan kurang bagus. Padahal, dari luar, pasar ini kan terlihat sangat megah,” kata Gusti Estuasa.

Masih Tahap Pemeliharaan

Untungnya pihak PT. Nindya Karya (NK) sebagai kontraktor yang menggarap proyek itu masih mau memperbaiki apabila ada bagian-bagian proyek yang rusak atau perlu mendapatkan penanganan segera.

Sebab, saat ini proyek ini masih dalam tahap pemeliharaan.

“Dari pihak NK ada yang standby di sini. Jadi sudah diperbaiki langsung kalau ada yang rusak,” kata Estuasa.

Estuasa mengatakan, setelah Pasar Badung resmi diserahterimakan ke Pemkot Denpasar tepatnya ke Perusahaan Daerah (PD) Pasar Kota Denpasar, kemungkinan lantai di kawasan pedagang daging tersebut akan dipermak lagi.

Pun tidak menutup kemungkinan seluruh lantai di pasar ini akan dirombak ulang.

“Ya nanti kita ikuti bagaimana hasil keputusannya. Soalnya sekarang baru sebatas wacana saja ada rencana begitu,” ungkap Estuasa.

Dia mengaku, hingga akhir Kamis (11/4) lalu Pasar Badung belum secara resmi menjadi tanggungjawab Pemkot Denpasar atau PD Pasar Kota Denpasar.

“Sampai sekarang belum serah terima. Jadi kami belum bisa mengubah fisik apapun. Yang bisa kami lakukan hanya membersihkan yang kotor-kotor,” katanya.

Salah-satu pedagang daging sapi mengeluhkan kurangnya tempat cuci perabotan untuk para pedagang daging.

Di lantai I memang sudah terdapat satu ruangan untuk tempat cuci perabota.

Namun, jumlah kerannya cuma tiga unit sehingga pedagang harus antre.

“Jumlah pedagangnya banyak, kerannya sedikit, cuma tiga. Kan jadinya lambat kalau kita punya buruh kan molor jam kerja mereka,” kata salah satu pedagang daging tersebut kepada Tribun Bali.(win)

Penulis: I Wayan Erwin Widyaswara
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved