Tradisi Unik di Banjar Adat Suter Bangli, Laki-laki Wajib Tindik Kedua Telinganya

Tradisi tindik kuping bagi laki-laki, terus dilestarikan secara turun-temurun serta memiliki hubungan dengan satu tempat persembahyangan di pura desa

Tradisi Unik di Banjar Adat Suter Bangli, Laki-laki Wajib Tindik Kedua Telinganya
Tribun Bali/Fredey Mercury
Salah satu anak laki-laki di wilayah Suter, Kintamani, Bangli yang ditindik pada dua telinganya. 

Lanjut Nyepeg, tindik kuping bagi warga Banjar Adat Suter, khususnya laki-laki, biasanya dilakukan pada upacara tiga bulanan.

Bagi warga yang tidak melakukan tradisi ini, maka dipercaya akan terkena musibah seperti sakit-sakitan.

“Kalau dulu tindik kuping ini dilakukan dengan cara tradisional, namun sekarang sudah bisa dilakukan di bidan. Tindik ini dilakukan pada telinga kanan dan kiri. Hanya saja, tindik yang dilakukan tidak harus menembus, sebab yang terpenting sempat dilubangi saja,” ungkapnya.

Nyepeg menambahkan, tradisi tindik ini tidak hanya dilakukan bagi warga di Banjar Adat Suter, namun juga warga banjar lain di Desa Suter, serta Desa Abang Batudinding, dan Desa Abang Songan, sebab warga di tiga desa ini seluruhnya nyungsung di Pura Tulukbiyu.

Selain tradisi tindik kuping, keunikan lain di Banjar Adat Suter juga terdapat saat memasuki areal Pura Dalem Pingit, di mana pemedek tidak boleh mengenakan berbagai perhiasan emas dan perak, serta mengenakan barang apapun berbahan kulit utamanya kulit sapi.

Larangan tersebut ternyata memiliki alasan lain dimana Ida Bethara Sakti Dalem Pingit yang berstana, memiliki wujud (meperagan) harimau.

Sebab itu, Ida Pemangku setiap akan nge-luur tirta, bilamana ada yang membawa perhiasan emas, perak, maupun mengenakan dan membawa barang berbahan kulit, maka akan mendengar suara mengaum.

“Suara auman ini terkadang hanya didengar oleh jero mangku saja. Dan suara auman ini dipercaya bahwa ada masyarakat yang membawa perhiasan emas, maupun mengenakan sendal kulit, dompet kulit dan sebagainya. Sebab itu tidak ada masyarakat yang berani coba-coba melanggar aturan. Jadi saat ada upacara disana, biasanya sejak dari rumah masyarakat sudah mempersiapkan untuk tidak melanggar,” ujar Kelian Dinas Banjar Adat Suter, I Nengah Suratnata.

Masyarakat kian meyakini kesakralan Pura Dalem Pingit sebab pernah ada kejadian salah seorang warga tidak sengaja mengenakan sandal berbahan kulit.

Saat itu pula, tirta yang biasanya mengalir deras tiba-tiba tidak keluar setetespun.

“Tirta ini biasanya digunakan sebelum dilangsungkan upacara di pura tersebut. Namun suatu hari, ada krama yang lupa dan mengenakan sendalnya masuk. Sehingga sampai dengan malam hari nunas tirta disana, tirta ini tidak mau keluar,” ungkapnya. (*)

Penulis: Muhammad Fredey Mercury
Editor: Widyartha Suryawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved