Realisasi Sekolah Aman Bencana di Bangli Terkendala Anggaran

keterbatasan anggaran yang tersedia di tubuh BPBD Bangli seolah menjadi kendala bagi pembentukan sekolah aman bencana di Bangli

Realisasi Sekolah Aman Bencana di Bangli Terkendala Anggaran
Tribun Bali/Fredey Mercury
Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Bangli, I Wayan Karmawan 

TRIBUN-BALI.COM, BANGLI – Pembentukan sekolah aman bencana hingga kini terus digaungkan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bangli.

Namun demikian, keterbatasan anggaran yang tersedia di tubuh BPBD Bangli seolah menjadi kendala untuk kelangsungan kegiatan ini.

Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Bangli, I Wayan Karmawan tidak secara eksplisit membenarkan terbatasnya anggaran di BPBD Bangli kaitanya dengan pembentukan sekolah aman bencana.

Namun ia tidak memungkiri, bahwa dengan anggaran yang terbatas, pembentukan sekolah aman bencana pun juga tidak bisa dilakukan dengan cepat, mengingat tedapat empat kecamatan di Kabupaten Bangli dengan jumlah sekolah mencapai ratusan dari berbagai jenjang.

Karmawan menjelaskan, pembentukan sekolah aman bencana di tiap sekolah, membutuhkan anggaran yang berkisar antara Rp 50 hingga 70 juta.

Sedangkan sejak berjalan dua tahun terakhir, tercatat baru empat sekolah yang terbentuk sebagai sekolah aman bencana.

Seperti SMPN 1 Bangli, SMPN 3 Bangli, SMPN 1 Kintamani, serta SMPN 1 Tembuku. Demikian pula dengan Desa Tangguh bencana, dimana hingga kini baru satu desa yang terbentuk, yakni Desa Abang Batudinding, Kintamani.

“Berapa target sekolah ataupun desa yang mampu dibentuk itu kembali pada anggaran yang ada. Tentunya kami tidak bisa memberikan target yang banyak, bilamana anggarannya terbatas. Sebaliknya, jika diberikan anggaran lebih, maka target bisa kami tingkatkan. Jika dulunya dalam satu tahun hanya dua sekolah, mungkin bisa kami tingkatkan menjadi empat. Otomatis dari tahun-ketahun, pembentukan sekolah aman bencana di Bangli menjadi lebih cepat,” ungkapnya.

Mengenai pembentukan sekolah aman bencana, Karmawan menjelaskan bahwa hal ini perlu sebab bertujuan memberikan pengetahuan baik secara teori, maupun praktik berupa simulasi kepada siswa-siswi.

Sasaran dalam pembentukan sekolah aman bencana pun juga dipilih berdasarkan beberapa hal yang menjadi potensi. Seperti jumlah siswa, kondisi sekolah, serta lokasi sekolah berdasarkan tingkat kerawanan bencana.

Halaman
12
Penulis: Muhammad Fredey Mercury
Editor: Widyartha Suryawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved