Jaga Alam Agar Lestari, Desa Tenganan Pegringsingan Miliki Awig-awig tentang Lingkungan

Desa Tenganan Pegringsingan di Kecamatan Manggis, Karangasem memiliki awig-awig (peraturan adat) terkait pelestarian lingkungan

Jaga Alam Agar Lestari, Desa Tenganan Pegringsingan Miliki Awig-awig tentang Lingkungan
Tribun Bali/Saiful Rohim
Suasana di Desa Tenganan Pegringsingan, Kecamatan Manggis, Karangasem tampak asri dan lestari karena warganya menghormati awig-awig (aturan adat) yang mengatur tentang lingkungan. 

TRIBUN-BALI.COM, AMLAPURA - Desa Tenganan Pegringsingan di Kecamatan Manggis, Karangasem memiliki awig-awig (peraturan adat) terkait pelestarian lingkungan.

Satu diantaranya adalah larangan menebang pohon besar tanpa sepengetahuan prajuru desa adat. Pohon besar yang dilarang ditebang seperti pohon nangka, pohon cempaka, kemiri, pangi, serta pohon kelue.

Warga yang melanggar aturan akan diberikan sanksi berupa denda dua kali harga kayu yang ditebang.

Kelian Adat Desa Tenganan Pegeringsingan, Wayan Sudarsana menceritakan alam Tenganan Pegringsingan yang lestari merupakan warisan para leluhur terdahulu dan harus tetap dijaga.

Bahkan, awig-awig terkait pelestarian lingkungan tersebut telah ada semenjak Tenganan Pegringsingan berdiri.

"Desa Adat Tenganan Pegeringsingan berpedoman pada konsep Tri Hita Karana. Selain hubungan yang harmonis dengan Tuhan dan manusia, warga juga sangat menjaga kelestarian alam. Makanya banyak peraturan yang terkait lingkungan," ungkap Sudarsana.

Suasana di Desa Tenganan Pegringsingan, Kecamatan Manggis, Karangasem tampak asri dan lestari karena warganya menghormati awig-awig (aturan adat) yang mengatur tentang lingkungan.
Suasana di Desa Tenganan Pegringsingan, Kecamatan Manggis, Karangasem tampak asri dan lestari karena warganya menghormati awig-awig (aturan adat) yang mengatur tentang lingkungan. (Tribun Bali/Saiful Rohim)

Selain itu, krama juga dilarang menjual tanah di Tenganan Pegeringsingan. Seandainya ada warga yang menjual tanah perkebunan dan pertanian, ia akan dikenakan denda dua kali lipat penjualan tanah.

"Warga takut menjual tanah dan menebang pohon sembarangan," jelasnya.

Berkat awig-awig tersebut, hasil alam seperti padi dan buah selalu cukup digunakan untuk kebutuhan sehari-hari maupun keperluan upacara warga.

Itu pula sebabnya, warga Tenganan Pegeringsingan bisa mandiri dari sisi pangan.

Untuk diketahui, lahan permukiman dan bale sosial warga Tenganan Pegringsingan sekitar 78 hektare. Hutan adat mencapai 225 hektare, sedangkan sawah 558 hektare.

Adapun jumlah penduduk mencapai 109 kepala keluarga dengan mata pencarian utamanya sebagai petani. (*)

Penulis: Saiful Rohim
Editor: Widyartha Suryawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved