Serbi Serba

Ratusan Umat Mebayuh Tumpek Wayang di Pasraman Prakerti Bhuana Beng

krama yang lahir di Wuku Wayang melakukan pebayuhan ke Pasraman Prakerti Bhuana, Kelurahan Beng

Ratusan Umat Mebayuh Tumpek Wayang di Pasraman Prakerti Bhuana Beng
Tribun Bali/I Wayan Eri Gunarta
Pementasan wayang sapuh leger di Pasraman Prakerti Bhuana, Kelurahan Beng serangkaian pebayuhan Tumpek Wayang, Jumat (19/4/2019). Tirtan dalang merupakan bagian terpenting dari pebayuhan. 

TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Tumpek Wayang merupakan hari yang kramat bagi masyarakat yang lahir di Tumpek Wayang.

Dimana hal tersebut dapat menyebabkan mereka hidup susah, sakit-sakitan dan sebagainya, lantaran menyamai kelahiran Bhatara Kala.

Tak ingin hal tersebut terjadi, krama yang lahir di Wuku Wayang pun berbondong-bondong melakukan pebayuhan ke Pasraman Prakerti Bhuana, Kelurahan Beng.

Pebayuhan tersebut telah dilakukan sejak Kamis (18/4/2019) lalu dan berakhir pada Sabtu (20/4/2019).

Pemilik Pasraman Prakerti Bhuana, Ida Bagus Adi Supartha, Jumat (19/4/2019), mengatakan, dari hari Kamis dan Jumat, tercatat 374 orang yang mendaftar pebayuhan di Tumpek Wayang ini.

Namun kata dia, yang melakukan pebayuhan tidak yang lahir di Tumpek Wayang atau pebayuhan sapuh leger.

Baca: Oknum Caleg di Dapil Dawan Diduga Nyoblos Dua Kali, Bawaslu Klungkung Tunggu Laporan Resmi

Baca: Begini Detik-detik Dua Ketua KPPS di Tasikmalaya Meninggal Akibat Kelelahan di TPS

Tetapi pihaknya juga melakukan pebayuhan lintang bade, salah wetu, untang anting, dan kembar buncing.

“Yang terdaftar sebanyak 374 orang, tetapi yang datang langsung atau mendadak lebih banyak lagi, 425 karawista habis,” ujarnya.

Menurut Gus Adi sapaannya, jumlah tersebut relatif sedikit jika dibandingkan dengan pebayuhan Tumpek Wayang tahun-tahun sebelumnya, yang mencapai ribuan orang.

Berkurangnya jumlah krama kali ini, disebabkan, pihaknya meniadakan pebayuhan sapuh leger yang lahir pada hari Minggu, Senin, Selasa dan Rabu.

Hal tersebut lantaran jumlah pendaftar di hari tersebut relatif sedikit.

Baca: Pembunuh Berantai Ini Disebut Wanita Paling Berbahaya, Ia Bisa Memikat Korbannya dari Balik Penjara

Baca: BREAKING NEWS! Asap Hitam Mengepul di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Listrik Padam, Begini Kondisinya

Sebab pebayuhan secara massal ini sudah dilakukan sejak tahun 2014, sehingga banyak krama yang sudah tidak mebayuh lagi.

“Biasanya sampai ribuan, karena yang daftar hari Minggu sampai Rabu jumlahnya sedikit, jadi di hari itu ditiadakan. Pebayuhan sapuh leger itu tidak bisa sembarangan, harus sesuai hari mereka lahir. Jika mereka lahir di hari Minggu, mebayuhnya harus di Minggu, tidak boleh di hari yang lain,” ujarnya.

Halaman
12
Penulis: I Wayan Eri Gunarta
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved