Novel 'Lelaki di Tengah Hujan' Mengingatkan Kaum Muda Pada Kisah di Balik Peristiwa Mei 1998

Peristiwa 21 Mei 1998 merupakan peristiwa paling membekas di benak masyarakat Indonesia. Namun tidak banyak yang tahu kisah-kisah di baliknya

Novel 'Lelaki di Tengah Hujan' Mengingatkan Kaum Muda Pada Kisah di Balik Peristiwa Mei 1998
Tribun Bali/M Ulul Azmy
Wenri Wanhar (Udeng Bali) bersama tiga narasumber para pelaku sejarah pergerakan 21 Mei 1998, membincang buku Lelaki di Tengah Hujan karyanya, di Warung Nyoman Family, Denpasar, Jumat (19/4/2019). 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Peristiwa 21 Mei 1998 merupakan peristiwa paling membekas di benak masyarakat Indonesia.

Sebuah era dimana presiden paling ditakuti semasa rezim otoriter Orde Baru saat itu akhirnya tumbang berkat perjuangan gigih para kaum muda.

Namun tidak banyak yang tahu kisah-kisah seperti apakah di balik perjuangan 98 itu, terlebih generasi muda kini.

Hingga lahirlah sebuah novel sejarah karya Wenri Wanhar, jurnalis dan sejarawan asal Kampung Hyang, desa kecil di kaki Gunung Kerinci, Sumatera Barat berjudul Lelaki di Tengah Hujan.

Terbit perdana pada pertengahan Maret 2019 silam, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Denpasar menggelar diskusi bincang buku novel sejarah ini di Warung Nyoman Family, Jalan Merdeka, Renon, Jumat (19/4/2019).

Dalam bincang buku ini menghadirkan tiga narasumber yang juga merupakan pelaku sejarah 98, yakni Hartanto (Jurnalis Senior Majalah Matra), Roberto Hutabarat (Aktivis 98 dan Jurnalis Majalah Kanaka) dan Wayan 'Jengki' Sunarta (Sastrawan) dan Erick Est (Sutradara) selaku moderator.

Baca: Gempa 5.0 SR Guncang Lombok Tengah, BMKG Catat Getaran Selama 1 Menit

Baca: Sempat Overload Beberapa Waktu Lalu, Kini Jumlah Jenazah di RSUD Mangusada Mulai Berkurang

Wenri mengatakan, naskah novel ini telah disusun sejak 1999, berawal dari catatan-catatan pribadinya dalam merekam peristiwa saat itu.

Dengan lahirnya buku ini, kata dia, sekaligus menjadi pengingat bahwa dulu pernah ada anak-anak muda pemberani dalam meruntuhkan rezim paling ditakuti saat itu.

''Pohon besar itu tidak akan pernah besar tanpa akar yang kuat. Secara hemat kita, bangsa tidak akan besar jika akarnya tidak kuat, sejarah tidak kuat,'' katanya.

Sebagai informasi, novel ini menceritakan sebuah narasi pinggiran yang tak banyak diketahui dari narasi besar perjuangan 98 selama ini.

Kisah sejarah perjuangan para pemuda di sini dibalut dengan sajian fiksi roman dengan tokoh utama Bujang Parewa.

Halaman
12
Penulis: eurazmy
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved