Tumpek Wayang : Kisah Rare Kumara yang Ingin Dimangsa Bhatara Kala, Diselamatkan Seorang Dalang

Bagi yang lahir wuku Wayang mereka akan mengikuti ruwatan atau sapuh leger. Apa sebabnya mereka harus melakukan hal itu?

Tumpek Wayang : Kisah Rare Kumara yang Ingin Dimangsa Bhatara Kala, Diselamatkan Seorang Dalang
Tribun Bali/I Wayan Eri Gunarta
Pementasan wayang sapuh leger di Pasraman Prakerti Bhuana, Kelurahan Beng serangkaian pebayuhan Tumpek Wayang, Jumat (19/4/2019). Tirta dalang merupakan bagian terpenting dari pebayuhan. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR- Hari ini, Sabtu (20/4/2019) merupakan Hari Raya Tumpek Wayang.

Bagi yang lahir wuku Wayang mereka akan mengikuti ruwatan atau sapuh leger.

Apa sebabnya mereka harus melakukan hal itu?

Secara mitologis dan sastra Bhatara Kumara lahir pada Wuku Wayang yang juga kelahiran kakaknya Bhatara Kala.

“Sehingga karena lahir pada wuku yang sama itulah, maka Rare Kumara dianggap mamada-mada sehingga Bhatara Kala memiliki hak memakan adiknya,” kata I Putu Eka Guna Yasa, Dosen Bahasa Bali Unud.

Ketika Kala meminta ijin, Bhatara Siwa tidak mengijinkan memakan adiknya dengan alasan masih kecil, dan Siwa baru mengijinkan jika Bhatara Kumara sudah besar.

“Karena sayang pada Bhatara Rare Kumara, seketika itu Bhatara Siwa menemuinya dan diberikan anugrah yaitu akan tetap kecil, sehingga tidak dimakan oleh kakaknya,” imbuh Guna.

Dalam buku Wayang Sapuh Leger karya I Dewa Ketut Wicaksana diuraikan mengenai kisah Bhatara Kumara ini pada halaman 65.

Adapun sumber yang dirujuk buku ini yaitu Lontar Kidung Sapuh Leger, No. Va. 645, koleksi Gedong Kirtya, Singaraja.

Diceritakan bahwa Bhatara Siwa atau Bhatara Guru memiliki dua orang putra yaitu Bhatara Kala dan Sang Hyang Rare Kumara yang lahir pada minggu yang sama yaitu wuku wayang.

Halaman
123
Penulis: Putu Supartika
Editor: Eviera Paramita Sandi
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved