Banjir Rob Genangi Warung Warga di Pantai Lebih Gianyar, Pusat Didesak Bangun Terowongan

Naiknya air laut ke permukaan atau banjir rob di Pantai Lebih, Desa Lebih, Gianyar membuat warung-warung warga di areal pantai ini tergenang

Banjir Rob Genangi Warung Warga di Pantai Lebih Gianyar, Pusat Didesak Bangun Terowongan
Tribun Bali/Eri Gunarta
Kondisi ombak di Pantai Lebih Gianyar pada Senin (22/4/2019) siang relatif tinggi. Bahkan membuat air laut meluber ke daratan. 

TRIBUN-BALI.COM, GIAYAR – Naiknya air laut ke permukaan atau banjir rob di Pantai Lebih, Desa Lebih, Gianyar membuat warung-warung warga di areal pantai ini tergenang, Senin (22/4/2019).

Kondisi ini terus berulang setiap purnama. Karena itu, kini dirancang pembuatan terowongan besar agar air rob tidak sampai menggenangi area daratan.

Pantauan Tribun Bali di Pantai Lebih, Senin (22/4/2019) pukul 11.48 Wita, areal parkir di Pantai Lebih tergenang air laut setinggi betis orang dewasa.

Hal tersebut diakibatkan ombak besar. Bahkan hempasannya saat membentur tanggul mencapai ketinggian 5 hingga 10 meter. Kondisi ini mengakibatkan masyarakat yang hendak memasuki areal pantai ketakutan, lalu meninggalkan pantai.

Pedagang Pantai Lebih, Ni Made Sri mengatakan, dirinya tidak mengetahui sejak pukul berapa air menggenangi kawasan parkir. Sebab begitu datang ke pantai untuk membuka warung, ia mendapati kondisi tersebut.

Ombak Pantai Lebih yang relatif tinggi membuat air laut meluber ke daratan, Senin (22/4/2019).
Ombak Pantai Lebih yang relatif tinggi membuat air laut meluber ke daratan, Senin (22/4/2019). (Tribun Bali/Eri Gunarta)

Dia mengakui, banyak warga yang batal masuk ke kawasan Pantai Lebih. Sebab, air laut sangat cepat merusak mesin kendaraan.

Kondisi ini semakin buruk, lantaran di luar tidak terdapat tempat parkir yang memadai.

“Banyak yang balik arah, selain takut melihat ombak yang tinggi, mereka juga takut kendaraannya rusak. Sebab sering terjadi, kalau nekat menerobos masuk saat situasi banjir begini, motornya yang mesinnya sudah tua mendadak mati. Kalau mesinnya masih bagus, paling bertahan cuma 10 hari, abis itu rusak. Saya sendiri kalau di saat-saat seperti ini, tidak berani bawa kendaraan,” ujar Sri sembari menyeduhkan kopi.

Pedagang lainnya, Ni Nyoman Soka mengatakan, banjir Senin kemarin relatif kecil.

“Ini masih kecil, kemarin saat Bulan Purnama baru parah sekali. Bahkan air sampai merendam setengah warung saya. Untuk barang-barang cepat saya selamatkan, kalau tidak sudah hanyut,” ujarnya.

Halaman
12
Penulis: I Wayan Eri Gunarta
Editor: Widyartha Suryawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved