Helikopter Sempat Mendarat di Areal Persawahan Jatiluwih, Pengelola Bantah Keberadaan Helipad

Pihak pengelola Jatiluwih mengatakan, tempat yang disebut-sebut helipad itu merupakan centre point yang berada di areal persawahan

Helikopter Sempat Mendarat di Areal Persawahan Jatiluwih, Pengelola Bantah Keberadaan Helipad
Tribun Bali/Made Prasetia Aryawan
Wisatawan berfoto di centre point di areal persawahan Jatiluwih, Senin (22/4/2019). 

TRIBUN-BALI.COM, TABANAN - Keberadaan helipad di kawasan Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Tabanan, memicu pergunjingan.

Pengelola Daerah Tujuan Wisata (DTW) Jatiluwih kemudian menjelaskan ihwal keberadaan helipad tersebut, Senin (22/4/2019).

Pihak pengelola mengatakan, tempat yang disebut-sebut helipad itu merupakan centre point yang berada di areal persawahan.

Di kawasan tersebut memang pernah ada pendaratan helikopter pada September 2018 lalu.

Namun ketika dilakukan pendaratan, ternyata dampaknya luar biasa membuat padi di kawasan sekitarnya rusak.

Setelah itu, helipad tersebut tak pernah difungsikan kembali untuk landasan helikopter. Saat ini digunakan untuk tempat selfie.

"Sebenarnya itu centre point yang kami bangun di pertengahan 2018 lalu. Jadi pembuatan itu untuk centre point bukan helipad. Memang pernah ada pendaratan helikopter di sana berkaitan dengan promosi Jatiluwih Festival 2018 lalu," kata Manajer DTW Jatiluwih, I Nengah Sutirtayasa.

Ia menuturkan, pembangunan centre point tersebut awalnya dari sebuah lahan seluas satu are yang tidak produktif. Itu dibangun untuk titik kumpul pemberian informasi kepada wisatawan yang berkunjung.

"Kami sebagai pengelola tujuannya hanya sebuah penataan karena itu merupakan lahan tidur," katanya.

Ia mengaku memang sempat ada pendaratan helikopter di kawasan tersebut karena kepentingan promosi Jatiluwih Festival saat itu.

"Sehingga diharapkan dengan dengan loncatan promosi kunjungan menjadi meningkat dan Jatiluwih layak dikunjungi oleh wisatawan. Terlebih lagi Jatiluwih dikunjungi wisatawan asing sebanyak 80 persen," paparnya.

Sutirtayasa pun membantah tempat itu disebut helipad. Kata dia, di kawasan tersebut belum ada standarisasi helipad.

"Kemudian kami juga tidak menerapkan kerjasama dengan pihak penyedia helikopter di kawasan ini," ucapnya.

Sementara itu, Sekda Tabanan, I Gede Susila didampingi Asisten I Sekda Tabanan, I Wayan Miarsana mengaku tak pernah mengeluarkan izin mengenai pembangunan helipad.

Pihak DTW Jatiluwih juga mengaku tak pernah mengeluarkan izin terkait pembangunan tersebut. (*)

Penulis: I Made Prasetia Aryawan
Editor: Widyartha Suryawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved