Pementasan Calonarang di Banjar Pengaji, Anak-anak Berebut Jadi Bangke Matah & Hadapi Risiko Ini

Tak banyak yang berani melakoni peran ini, lantaran taruhannya nyawa. Sebab seseorang yang menjadi bangke matah, kerap menjadi incaran penekun ilmu

Pementasan Calonarang di Banjar Pengaji, Anak-anak Berebut Jadi Bangke Matah & Hadapi Risiko Ini
Dok/ist
Calonarang-Watangan matah di Desa Pakraman Pengaji saat pementasan Calonarang di Pura Dalem Pengaji, Kamis (11/4/2019). 

TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Jika selama ini hanya orang dewasa dengan “kelebihan’ khusus yang berani menjadi watangan matah atau Bangke matah dalam pementasan calonarang, berbeda yang terjadi di Banjar Pengaji.

Di banjar ini justru anak-anak yang berebut menjadi bangke matah. Kok bisa?

WATANGAN matah atau bangke matah merupakan salah satu bagian sakral dalam pementasan calonarang.

Tak banyak yang berani melakoni peran ini, lantaran taruhannya nyawa.

Sebab seseorang yang menjadi bangke matah, kerap menjadi incaran penekun ilmu hitam untuk disakiti.

Namun di Banjar Pengaji, Desa Melinggih Kelod, Payangan, Gianyar, lakon menjadi watangan matah justru menjadi rebutan anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar (SD).

Lantaran hanya membutuhkan satu orang watangan matah, prajuru setempat sampai menggelar pemilihan dengan suara terbanyak, supaya tidak mengecewakan para pendaftar.

Selain itu, watangan matah di Desa Pakraman Pengaji ini juga tidak umum.

Baca: Kronologi 2 Bocah Denpasar Tewas di Kolam Renang Taman Tirta Mengwi, Rencana Diaben Tanggal 26 April

Biasanya watangan matah saat berada di kuburan ditemani ratusan orang.

Di sini, bangke matah akan ditinggal sendirian di kuburan, meskipun yang bersangkutan masih dalam keadaan sadar.

Halaman
123
Penulis: I Wayan Eri Gunarta
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved