Teks Terlalu Panjang, Siswa SLB di Karangasem Kesulitan Pahami Soal UN Bahasa Indonesia

Dua peserta Ujian Nasional (UN) di Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa (SMPLB) di Karangasem kesulitan mengerjakan soal Bahasa Indonesia

Teks Terlalu Panjang, Siswa SLB di Karangasem Kesulitan Pahami Soal UN Bahasa Indonesia
Tribun Bali/Eka Mita Suputra
Suasana UNBK di SMPN 1 Semarapura, Klungkung, Senin (22/4/2019). 

 TRIBUN-BALI.COM, AMLAPURA - Dua peserta Ujian Nasional (UN) di Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa (SMPLB) di Karangasem kesulitan mengerjakan soal Bahasa Indonesia, Senin (22/4/2019).

Pemicunya yakni soal terlalu panjang serta banyak istilah baru yang belum dimengerti.

Kepala Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri 1 Karangasem, Mudi Dwikora Hesti mengatakan, kedua peserta UN adalah penyandang tunarungu.

Minimnya kosakata dan panjangnya teks soal jadi kendala untuk mereka. Ini membuat pengawas ujian membantu menjelaskan maksud soal tersebut.

Pengawas ujian tampak membantu menjelaskan maksud soal Bahasa Indonesia yang dirasa terlalu panjang dan banyak istilah baru oleh para siswa SMPLB.
Pengawas ujian tampak membantu menjelaskan maksud soal Bahasa Indonesia yang dirasa terlalu panjang dan banyak istilah baru oleh para siswa SMPLB. (Tribun Bali/Saiful Rohim)

"Teks soal Bahasa Indonesia biasanya panjang sehingga siswa kesulitan memahami soal. Mereka juga tak bisa membayangkan. Kalau peserta UN tak paham, pengawas membantu menjelaskan maksud soal," ungkap Hesti.

Perempuan asal Megelang, Jawa Tengah juga menduga, selain Bahasa Indonesia, peserta akan kesulitan saat ujian Bahasa Inggris dan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).

"Biasanya banyak istilah baru serta ilmiah ditemukan di soal Bahasa Indonesia serta IPA," kata dia.

Adapun jumlah siswa SMPLB Kelas III sebanyak delapan orang. Namun hanya dua orang yang bisa mengikuti ujian nasiobal. Sisanya tidak bisa mengikuti UN lantaran lima orang tunagrahita (keterbelakangan mental) serta satu orang autis.

Sesuai Prosedur Operasional Standar (POS) Badan Standar Nasional Pendidikan, enam siswa kelas III ini tidak diperbolehkan mengikuti ujian nasional lantaran menderita autis dan tunagrahita.

Mereka hanya mengikuti ujian sekolah berstandar nasional (USBN).

Halaman
12
Penulis: Saiful Rohim
Editor: Widyartha Suryawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved