Gung Tri Dukung Pendirian Museum Wastra di Karangasem

Anggota DPR RI I Gusti Agung Putri Astrid Kartika MA mendukung pendirian dan pengembangan Museum Wastra di Karangasem, Bali.

Gung Tri Dukung Pendirian Museum Wastra di Karangasem
Istimewa
Anggota DPR RI I Gusti Agung Putri Astrid Kartika MA mendukung pendirian dan pengembangan Museum Wastra di Karangasem, Bali. 

TRIBUN-BALI.COM, AMLAPURA - Anggota DPR RI I Gusti Agung Putri Astrid Kartika MA mendukung pendirian dan pengembangan Museum Wastra di Karangasem, Bali.

Museum yang diresmikan Kamis (28/3/2019) itu sementara berlokasi di Taman Soekasada, Ujung itu mengkoleksi warisan budaya berbagai kain tradisional yang ada di desa-desa di Karangasem.

“Ini wujud dari perjuangan menjaga taksu Bali dimana kearifan lokal dalam wujud kain kita kumpulkan agar bisa diwarisi oleh anak cucu kita,” tegasnya.

Dia menegaskan, warisan budaya bukan hanya bangunan fisik yang indah tetapi juga pengetahuan lokal sebagai sumber pemajuan budaya.

"Dari Wastra lokal kita belajar tentang nilai kain, fungsi kultural dan spiritual hingga teknik pembuatan yang berbeda beda dari satu desa dengan desa yang lain,” tegasnya yang kembali dicalonkan oleh Partai PDI Perjuangan.

Ia berharap dengan upaya mengangkat nilai historis itu nantinya nilai ekonomi dari kain itu juga akan terangkat sehingga bisa menjadi sumber kesejahteraan bagi warga. Apalagi saat ini ada tren untuk menggunakan corak lokal dan yang ramah lingkungan.

Sementara itu Manager Badan Pengelola Taman Soekasada, Ujung, Karangasem Ida Made Alit menyatakan, penempatan lokasi museum di tempat itu sifatnya hanya sementara karenan nantinya akan disiapkan tempat yang khusus oleh Pemkab Karangasem dengan bantuan Dirjen Kebudayaan.

Adapun kain yang dikumpulkan nantinya akan berasal dari Desa-desa adat di Karangasem, khususnya yang telah dikenal memiliki ciri khas yang kuat seperti dari Tenganan, Bungaya, Budakeling, Timbrah, Asah dan lain-lain.

Di desa-desa itu wastra diproduksi dengan bahan dan corak yang beragam tergantung penggunaannya.

“Jadi ada perbedaan antara saat upacara Manusa Nyadnya, Dewa Nyadnya dan Pitra Nyadnya,” jelasnnya.

Setiap kain juga memiliki kekuatan tersendiri sehingga nyaman dipakai dan memberikan ketenteraman bagi yang melihatnya.

Peresmian museum sendiri dilakukan oleh Wakil Bupati Karangasem I Wayan Artadipa didampingi oleh jajaran Kementerian Kebudayaan dan perwakilan Dinas Kebudayaan Provinsi Bali. (*)

Editor: Widyartha Suryawan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved