Marak Kasus Bullying Pada Anak, Ini Pandangan Psikologi

Saat ini banyak kasus remaja yang melakukan tindakan kekerasan ataupun bullying. Bagaimana menurut psikologi?

Marak Kasus Bullying Pada Anak, Ini Pandangan Psikologi
Tribunnews
Ilustrasi. Marak Kasus Bullying Pada Anak, Ini Pandangan Psikologi 

Laporan Wartawan Tribun Bali, Rino Gale

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Saat ini banyak kasus remaja yang melakukan tindakan kekerasan ataupun bullying terhadap lingkungan sekitar, baik itu temannya maupun orang yang lebih tua.

Menurut Pikolog Klinis, Ida Ayu Saraswati Indrahani, secara mental, anak-anak ataupun remaja yang menjadi pelaku cyber bully ataupun kekerasan, biasanya dilatarbelakangi dia pernah menjadi korban.

"Jadi dia mendapatkan kekerasan baik yang dilihat secara visual, atau yang dia rasakan secara langsung atau menonton," ujarnya saat ditemui di Dian Selaras Konsultan Psikologi, Jalan Tukad Gangga IV No 12 Panjer, Denpasar, Jumat (26/4/2019).

Baca: Kecemasan Berlebihan Sangat Berpengaruh pada Aktivitas Sehari-hari, Ini Tanda-tanda & Solusinya

Baca: Ditjen Hubud Kemenhub RI Siap Hadapi Tantangan Revolusi Industri 4.0

Pada kondisi seperti ini, menurutnya, usia anak dan remaja secara emosional masih labil.

Hal itu yang menyebakan mereka impulsif, yakni melakukan sesuatu tanpa dipikir dahulu.

"Jadi dia berusaha mencari perhatian di luar atau melampiaskan yang dia rasakan itu di luar atau kepada teman-temannya. Bisa juga dia ingin menunjukkan rasa kehebatannya. Sebenarnya hal ini (menghindari sikap bullying) bisa dilatih sejak kecil," ucapnya.

Baca: Diduga Tekait Aliran Dana, Kantor Mantan Pengacara Sudikerta Akan Disita Polda Bali

Baca: Pemda Usulkan Pengerjaan Bypass IB Mantra Dilanjutkan, Butuh Anggaran Dana Rp 370 Miliar

Lanjut Saraswati, di sini diperlukan peran penting orangtua dalam melakukan pengawasan terkait penggunaan medsos dan memberikan pemahaman norma-norma yang ada di lingkungan sekitar.

"Itu yang paling penting. Apalagi ketika orangtua bertengkar, dianjurkan agar tidak terlihat anak, karena anak bisa menyontoh atau meniru dan mempraktekkannya kepada orang lain. Saya dapat banyak kasus-kasus pelaku anak-anak melakukan tindakan kekerasan itu, jika ditarik ke latar belakang, pasti kebanyakan keluarganya tidak beres. Dalam artian broken home, peran orangtua yang tidak menonjol, orangtua yang terlalu otoriter, dan bisa jadi si anak terlalu dimanja," terangnya.(*)

Penulis: Rino Gale
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved