Bunker Bersejarah Melawan Penjajah, Ini Persembunyian dan Atur Siasat Kapten Mudhita

Di Desa Pengotan, Bangli dulunya erdapat sebuah bungker yang dipercaya menjadi tempat mengatur strategi dan persembunyian Kapten Muditha

Bunker Bersejarah Melawan Penjajah, Ini Persembunyian dan Atur Siasat Kapten Mudhita
Tribun Bali/Fredey Mercury
Tugu Pahlawan di depan Pura Dalem Pengerubungan. 

TRIBUN-BALI.COM, BANGLI - Banjar Yoh, Desa Pengotan, Kecamatan Bangli dulunya dikenal sebagai basis perjuangan melawan penjajahan.

Di tempat ini terdapat sebuah bunker yang dipercaya menjadi tempat mengatur strategi dan persembunyian Kapten Muditha beserta pasukannya. Bungker itu berada di sekitar Pura Dalem Pengerubungan.

Pemangku pura, Jero Mangku Sofa mengatakan, saat ini sulit untuk menemukan lokasinya. Jika masuk ke bunker harus dilalui dengan merangkak. Sebab diameter lubang diperkirakan hanya selebar empat puluh sentimeter.

Meski demikian, Jero Mangku Sofa mengatakan semakin ke dalam ruangan di dalam bungker semakin luas.

“Letaknya berada di 60 meter arah barat daya dari Pura Dalem Pengerubungan. Ketika masih kecil saya kerap ke sana untuk mencari kelelawar. Namun untuk mencari dan masuk ke dalam bungker tersebut saat ini agak sulit karena sudah tertutup longsor. Namun jika masuk kurang lebih lebarnya dua meter dengan ketinggian yang sama. Di dalam cukup untuk duduk ukuran orang dewasa, serta mampu menampung puluhan orang,” jelasnya didampingi Kelian Adat Banjar Yoh, I Putu Wates.

Bungker itu juga dipercaya sebagai tempat persembunyian tokoh pahlawan asal Bangli, yakni Kapten Anak Agung Anom Mudita bersama sejumlah veteran lainnya.

Pura Dalem Pengerubungan dulunya bernama Pura Dalem Penghubung, di mana para veteran dari berbagai wilayah kabupaten menjadikan lokasi pura sebagai titik berkumpul dengan veteran di Bangli.

Banyar Yoh juga menjadi tempat Kapten Mudita untuk mengatur strategi. Kurang lebih selama tiga bulan Kapten Mudita tinggal di tempat ini hingga akhirnya mengambil sumpah dari seluruh veteran asal Desa Pengotan.

Sumpah itu dilakukan dengan menggunakan darah ayam hitam pengganti tinta untuk cap jempol.

“Sebelum beliau pulang ke Bangli (Penglipuran), pada malam harinya sempat digelar rapat besar-besaran. Saya lupa tanggalnya kala itu, namun menurut almarhum Nang Kaden (penglisir yang juga veteran) rapat digelar untuk melanjutkan perjuangan beliau. Semisal beliau (Kapten Mudita) meninggal, masyarakat di sini (Desa Pengotan) masih tetap melanjutkan perjuangan beliau," ujarnya.

Halaman
123
Penulis: Muhammad Fredey Mercury
Editor: Widyartha Suryawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved