Pro Kontra Bunga Gumitir sebagai Maskot Bangli, PHDI Bakal Rapat dengan Sulinggih dan Tokoh

PHDI Kabupaten Bangli akanmenggelar rapat dengan melibatkan sulinggih untuk membahas bunga gumitir yang akan dijadikan maskot Bangli

Pro Kontra Bunga Gumitir sebagai Maskot Bangli, PHDI Bakal Rapat dengan Sulinggih dan Tokoh
Tribun Bali/ Saiful
Bunga Gumitir yang akan dijadikan maskot Kabupaten Bangli menuai pro-kontra. 

TRIBUN-BALI.COM, BANGLI - PHDI Kabupaten Bangli secara khusus akan segera menggelar rapat dengan melibatkan sulinggih, pemangku, dan tokoh-tokoh masyarakat.

Rapat ini bertujuan untuk mengkaji lebih dalam mengenai bunga gumitir yang akan dijadikan maskot Kabupaten Bangli.

Ketua PHDI Bangli, I Nyoman Sukra mengatakan, banyak masukan yang telah diterima pihaknya terkait rencana penggunaan bunga gumitir sebagai maskot.

Dari masukan tersebut, diakui Sukra, rencana penggunaan bunga gumitir sebagai maskot cenderung ditolak.

“Banyak yang mempertanyakan kenapa menggunakan bunga gumitir, dan bukan bunga lain sebagai maskot? Masukan itu ada yang dari medsos, ada pula yang langsung SMS saya,” katanya, Selasa (7/5/2019).

Ketua PHDI Bangli, I Nyoman Sukra.
Ketua PHDI Bangli, I Nyoman Sukra. (Tribun Bali/Fredey Mercury)

Lanjut Sukra, karena banyaknya masyarakat yang mempertanyakan terkait maskot itu, pihaknya berupaya menjembatani dengan mengundang sejumlah toko baik dari tokoh puri, sulinggih, maupun pengurus PHDI Bangli.

“Dari masukan ini, nantinya akan dijadikan dasar PHDI Bangli secara resmi mengeluarkan rekomendasi. Ini selanjutnya ditujukkan kepada Bupati Bangli,” ungkapnya.

Baca: Ribut-ribut Soal Tari Sekar Gumitir Sebagai Maskot Bangli, Made Gianyar Sebut Baru Wacana

Sukra mengatakan, maskot harus bisa membangkitkan semangat serta menimbulkan kebanggaan.

Diakui saat kepemimpinan mantan Bupati Bangli, Ida Bagus Ladip, banyak masyarakat dibuat jengah dan dibangkitkan semangatnya saat berencana menjadikan bunga pucuk bang sebagai maskot.

“Sekarang, belum dijadikan maskot saja kita sudah kedekine (ditertawakan), serta dianggap sebagai lucu-lucuan. Jika seperti ini orang Bangli bukannya bangga, justru miris (saat nantinya dijadikan maskot),” ujarnya.

Halaman
12
Penulis: Muhammad Fredey Mercury
Editor: Widyartha Suryawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved